Category Archives: Tungku

>Modifikasi Tungku Sekam untuk Mesin Pengering Terintegrasi dengan Penggilingan Padi (2006)

>

Harmanto; Mulyantara, FX. Lilik Tri; Nurhasanah, Ana; Rahmarestia W, Elita; Wiyono,Joko; Wikan Widodo, Teguh; Sutrisno
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
ABSTRAK
Pada saat ini, potensi ketersediaan limbah sekam dari 60.000 unit penggilingan padi yang ada di Indonesia adalah sekitar 1.150 metrik ton sekam per bulan. Sekam masih merupakan limbah (hasil samping) penggilingan padi yang belum dimanfaatkan secara optimal padahal sekam merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat potensial. Selain itu, krisis energi yang terjadi akhir-akhir ini seperti: tingginya harga BBM (bahan bakar minyak) dan langkanya minyak tanah di pasaran, pemanfaatan sekam sebagai sumber energi alternatif sangat dibutuhkan. Hal ini sekaligus untuk mengurangi limbah penggilingan padi. Tungku sekam merupakan alat pembangkit energi dari sekam untuk pengering gabah tipe bak terbuka telah dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian Padi (Balitpa), Sukamandi. Dalam pengoperasiannya, kinerja tungku sangat tergantung pada operator terlebih apabila letak tungku ini terintegrasi dengan unit penggilingan padi. Pengumpanan sekam masih dilakukan secara manual dan pengaturan panas pada tungku dirasakan masih sulit dikontrol. Untuk itu perlu dilakukan modifikasi tungku guna meningkatkan kinerja tungku ini. Tujuan penelitian ini adalah memodifikasi tungku sekam yang sudah dikembangkan tersebut diatas, terutama pada desain tungku sekam, perbaikan tata letak dengan unit penggilingan padi dan sistem pengumpanan sekamnya. Berdasarkan studi kasus pada salah satu UPJA di Binong, Sukamandi, perbaikan tata letak telah dilakukan. Bucket conveyor berkapasitas 30 kg/jam telah dirancang dan diuji dengan melakukan simulasi tata letak dengan penggilingan padi di BBPMektan, Serpong untuk memperbaiki sistem pengumpanan sekam ke tungku dan sistem pembakarannya. Hasil uji fungsional dan unjuk kerja menunjukkan bahwa penambahan komponen pengumpan berupa konveyor ini sangat membantu meningkatkan efisiensi tungku dan penyaluran panas pada mesin pengering, menjaga kontinyuitas pembakaran dan menurunkan jumlah operator. Modifikasi tungku sekam dan perubahan tata letak mesin pengering terintegrasi dengan unit penggilingan padi mampu meningkatkan suhu ruang pengering rata-rata menjadi 44,7 °C, meningkatkan efisiensi tungku dari 25 % menjadi 33,6 % dan menekan biaya pokok pengeringan dari Rp. 53,-/kg menjadi Rp. 48,-/kg. Namun demikian, masih perlu perbaikan dalam mempertahankan suhu udara hasil pembakaran sekam antara 40 – 50 °C pada ruang pengering (plenum chamber) dengan memperbaiki sistem pengaduk arang pada tungku sekam sehingga pembakaran sekam lebih kontinyu.

Leave a comment

Filed under Tungku

>PEMBAKARAN KAPUR DALAM TUNGKU SISTEM BERKALA DENGAN KOMBINASI BAHAN BAKAR BATUBARA-KAYU

>Tungku Pendam


Tungku pendam sistem berkala berbentuk silinder yang terpendam dalam tanah dengan sedikit bagian terbuka untuk pelaksanaan proses pembakaran adalah penampang tungku pendam berkapasitas 60 ton batu kapur.
Dinding tungku pendam dibuat dari susunan batu kuarsa (batu gongsol) atau jenis batu kali tertentu; dapat juga dibuat dari batu bata biasa. Batu bata tidak tahan terhadap api reduksi sehingga dinding dari batu bata mudah rusak.
Pemasukan bahan bakar dilakukan dari bukaan pada dinding yang berhubungan dengan bukaan tempat juru bakar melakukan tugasnya memasukkan bahan bakar. Bahan bakar masuk ke dalam rongga di dalam tungku yang dibuat dari susunan batu kapur yang akan dibakar.

Susunan Batu Kapur
Penyusunan batu kapur di dalam tungku pendam merupakan langkah penting untuk terlaksananya proses pembakaran yang efisien dan merata ke seluruh umpan batu kapur yang akan dibakar sehingga seluruhnya terkalsinasi menjadi kapur tohor.
Di bagian dasar disusun batu kapur berukuran besar 20- 30 cm x 30-40 cm. Susunan ini berfungsi sebagai fondasi untuk menopang susunan batu kapur selanjutnya sampai ke bagian atas tungku.
Industri pembakaran kapur termasuk industri yang padat energi karena 50-60% biaya produksinya merupakan biaya energi.
Untuk tungku berisi 100 ton batu kapur memerlukan 50 ton kayu pinus yang baik (10 truk) untuk pembakaran selama 9-10 hari.
Untuk mengurangi konsumsi kayu dapat digunakan batu bara halus tanpa melakukan modifikasi tungku. Untuk itu hanya diperlukan peralatan tambahan yaitu blower dan meja pengumpan batu bara.
Fondasi ini harus cukup kuat dan stabil pada temperatur tinggi
(1000-1200°C) sampai proses pembakaran selesai yaitu sekitar 3-10 hari masing-masing untuk kapasitas 20 dan 100 ton batu kapur. Untuk ini sifat fisik batu kapur yang digunakan pada suhu tinggi harus sudah diketahui.
Semakin ke atas, batu kapur yang disusun semakin kecil ukurannya dan susunan dibuat semakin ke tengah dan akhirnya bertemu pada ketinggian ± 1/3 tinggi umpan dari dasar tungku atau 1- 2 m. Terbentuklah sebuah rongga berbentuk setengah bola. Lubang pengapian dari luar tungku tembus ke dalam rongga ini. Karena bentuk yang demikian mengakibatkan terciptanya turbulensi yang tinggi dalam rongga pembakaran ini,
setelah suhu meningkat. Kondisi ini cukup ideal untuk proses pembakaran batu bara halus.
Dengan penambahan batu bara penggunaan kayu dapat berkurang paling sedikit setengahnya dan setiap ton batu bara dapat menggantikan 8-10 ton kayu bakar. Kemudian di permukaan tumpukan batu kapur tersebut ditutup dengan batu kapur kecil-kecil berukuran 2- 3 cm setebal 5 cm guna menahan laju panas yang keluar. Selanjutnya proses pembakaran dapat dimulai.


Susunan Batu Kapur di Dalam
Tungku (dilihat dari atas)

Teknik Pembakaran

Pembakaran dimulai dengan api kecil menggunakan kayu bakar untuk mengeringkan batu kapur. Api dapat dibesarkan setelah batu kapur hampir kering sehingga uap air tidak terlalu banyak. Banyaknya uap air akan mengganggu draft (tarikan) sehingga pembakaran kurang lancar, banyak menghasilkan jelaga yang mengganggu proses pembakaran selanjutnya.
Jika unggun batu kapur sudah hampir kering, draft sudah cukup kuat, api dapat semakin dibesarkan. Setelah api besar dan stabil, batubara halus dapat dimasukkan. Ukuran butir batu bara halus adalah 30 mesh dan cara pemasukannya adalah dengan mengalirkannya ke dalam pipa yang ditiup blower.
Untuk tungku pendam berkapasitas 40 ton batu kapur, dapat digunakan blower 3 inci 440 watt dan pipa untuk peniupan 4 – 5 inci.
Batu bara halus masuk ke pipa peniupan dari pipa pengumpan. Pemasukan batu bara halus ke pipa pengumpan untuk kemudian ditiupkan ke dalam ruang bakar dilakukan dengan sistem pengumpan.
Sistem pengumpan dapat berupa pengumpan ulir (screw feeder) dengan kecepatan yang dapat diatur atau dapat juga secara manual.
Cara manual dapat dilakukan dengan menyediakan meja dengan lubang di salah satu sudutnya untuk menyalurkan batu bara di atas meja dengan mendorong batu bara ke dalam pipa pengumpan dengan tangan melalui lubang tersebut.
Cara lain dengan menyediakan bejana diatas pipa pengumpan, kemudian aliran batu bara halus diatur dengan kran pada pipa pengumpan. Untuk memperlancar aliran batu bara dapat dilakukan dengan memasang kawat menembus bukaan pada kran dan kawat diputar dengan sebuah motor listrik.
Pipa peniup batu bara dipasang sedemikian rupa sehingga batu bara halus menyebar secara merata di dalam rongga pembakaran yang berisi kayu bakar yang sedang terbakar dengan posisi malang melintang. Pemerataan ini dibantu dengan adanya turbulensi yang tinggi dalam rongga pembakaran.

Turbulensi tercipta karena draft yang kuat dari unggun kapur dan udara luar masuk ke dalam rongga melalui lubang pengapian yang sempit. Kondisi ini sangat membantu proses pembakaran batu bara sehingga batu bara dengan cepat terbakar dan kayu terbakar lebih lambat.
Setiap pemasukan satu ton batubara dapat mengurangi penggunaan kayu bakar sebanyak 8 – 9 ton. Kecepatan pemasukan batubara antara 40 – 60 kg/jam. Kayu bakar juga terus ditambahkan sehingga api dari kayu dan batu bara berimbang dan dicapai efisiensi pembakaran yang maksimum.

Sketsa Susunan Pengumpan Batu Bara Halus

Penggunaan Pengumpan Batu Bara
Halus untuk Pembakar Kapur

Karena pemasukan batu bara secara terus menerus tanpa henti maka peningkatan suhu juga terus menerus sehingga waktu pembakaran dengan kombinasi batubara kayu ini lebih singkat dibanding pembakaran dengan kayu yaitu sekitar 2/3-nya. Untuk perbandingan, dibawah ini adalah hasil pembakaran 36 ton batu kapur.
Pembakaran dihentikan setelah seluruh muatan batu kapur telah terkalsinasi. Hal ini dapat diketahui dengan mengukur suhu sekitar 5 cm di bawah permukaan batu kapur. Setelah temperatur bertahan 2 – 3 jam pada 900°C atau lebih maka batu kapur telah terkalsinasi.
Dapat juga dilihat dari penurunan permukaan batu kapur di dalam tungku. Setelah terkalsinasi volume produk CaO menyusut sehingga permukaan batu kapur menurun 40 – 80 cm, tergantung kapasitas tungku dan sifat batu kapur yang dibakar. Trayek suhu pembakaran kapur dengan kombinasi batu bara-kayu terlihat dalam gambar.
Batu bara muda berkalori rendah, kurang dari 5500 kkal/kg, kurang efektif untuk digunakan membakar kapur dengan teknik ini. Batu bara ini baik untuk membakar kapur tanpa campuran kayu dalam tungku pendam yang dimodifikasi atau tungku tegak dengan pembakar siklon.
Batu bara peringkat lebih tinggi yang bernilai kalor lebih dari 6000 kkal/kg kurang baik untuk membakar kapur dengan teknik batu bara halus tanpa campuran kayu dalam tungku tersebut di atas sebab api pembakarannya dapat mencapai lebih dari 12000C. Panas yang terlalu tinggi mengakibatkan terjadinya sintering di permukaan kapur tohor (berwarna kehitaman) sehingga sukar diseduh menjadi Ca(OH)2.

Api di Bagian Atas Tungku pada Temperatur 9000C

Suhu di Bagian Atas Tungku pada Pembakaran 36 Ton
Batu Kapur selama 47 Jam

Leave a comment

Filed under Tungku

>MODIFIKASI TUNGKU BRIKET BATU BARA JENIS STASIONER SKALA RUMAH TANGGA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PEMBAKARAN DAN EFISIENSI

>

ABSTRAK
MODIFIKASI TUNGKU BRIKET BATU BARA
JENIS STASIONER SKALA RUMAH TANGGA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PEMBAKARAN DAN EFISIENSI
Oleh
Loko Purnomo
Indonesia memiliki berbagai jenis sumber energi didapat dalam jumlah yang besar, dari sumber energi tidak terbarukan yang terbesar di Indonesia adalah gambut dan batu bara. Menghadapi harga BBM khususnya minyak tanah yang masih tinggi dan berfluktuasi antara satu daerah dengan daerah yang lainnya serta terkadang terjadi kelangkaan di sejumlah daerah di Indonesia maka perlu adanya energi alternatif. Salah satu energi alternatif yang potensial untuk mengganti peran minyak tanah adalah briket batu bara. Penggunaan briket batu bara harus dibarengi dengan pemakaian kompor atau tungku dengan jenis dan ukuran tungku harus disesuaikan dengan kebutuhan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hayuning (2008) telah menggunakan tungku briket batu bara jenis stasioner skala rumah tangga dengan hasil efisiensi yang masih rendah yaitu sebesar 5,6% dan 4,8% maka dilakukan modifikasi dengan pendekatan desain tungku supaya dapat meningkatkan kinerja pembakaran dan efisiensi tungku briket batu bara. Tujuan penelitian ini adalah memodifikasi tungku briket batu bara jenis stasioner skala rumah tangga hasil penelitian Hayuning (2008) untuk meningkatkan kinerja pembakaran dan efisiensi.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan September 2008 bertempat di Laboratorium Rekayasa Pasca Panen dan Mesin Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Tahap penelitian dilaksanakan dengan perancangan dan pemodifikasian tungku briket batu-bara jenis stasioner dan dilanjutkan dengan pengujian. Pengujian menggunakan perlakuan massa briket non karbonisasi 1,5 kg, 2 kg dan 2,5 kg dan perendaman 30% dari massa briket yang digunakan ke dalam minyak tanah serta perlakuan plat pemasakan secara langsung dan tidak langsung.
Penelitian menghasilkan rancangan modifikasi tungku briket batu bara jenis stasioner skala rumah tangga yang efektif dan efisien. Tungku ini berbentuk balok dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 73 cm dan memiliki tinggi yang berbeda yaitu 52 cm dan 70 cm yang terbuat dari campuran semen, pasir dan batu bata yang dirangkai dengan rangka plat besi. Tungku ini terdiri dari beberapa bagian seperti lubang pemasakan 1 dan lubang pemasakan 2; bahan plat besi dengan diameter landasan pemasakan 18 cm, cerobong asap; bahan pipa besi dengan ukuran diameter 3 inch panjang 114 cm, anglo khusus; bahan tanah liat dengan ukuran diameter 28 cm dan tinggi 20 cm, dudukan anglo khusus 2 buah; bahan kayu papan dengan ukuran 9 × 23 cm dan 15 × 23 cm, pintu utama; bahan kayu papan dan aluminium dengan ukuran 35 × 40 cm dan pintu sirkulasi; bahan kayu triplek dan aluminium berukuran 29 × 35 cm. Dari tahap pengujian dapat disimpulkan bahwa (1). Rancangan tungku briket batu bara hasil modifikasi mampu meningkatkan kinerja pembakaran dengan suhu maksimum yang dicapai pada plat pemasakan 1 dan plat pemasakan 2 dengan massa briket 2 kg yaitu masing-masing sebesar 340oC dan 146oC (sebelumnya 182oC dan 88oC). (2). Suhu plat pemasakan 1 dengan kisaran suhu di atas 180oC pada massa briket 1,5 kg, 2 kg dan 2,5 kg masing-masing berlangsung selama 2,16 jam, 3,25 jam dan 4,33 jam. Sedangkan suhu plat pemasakan 2 dengan kisaran suhu di atas 160oC hanya dicapai pada massa briket 2,5 kg selama 0,5 jam. (3). Efisiensi tungku briket batu bara jenis stasioner yang telah dimodifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan tungku sebelumnya (rancangan Hayuning, 2008) yaitu sebesar 12,04% atau meningkat 2,5 kali lipatnya pada massa briket non karbonisasi 2 kg. (4). Peningkatan efisiensi masih bisa ditingkatkan dengan menggunakan metode plat pemasakan secara langsung dengan hasil efisiensinya sebesar 17,20% dan dengan menggunakan briket batu bara jenis karbonisasi dengan hasil efisiensinya sebesar 24,66%.

Leave a comment

Filed under Tungku

>RANCANG BANGUN TUNGKU TAK PERMANEN BERPENGISI LIMBAH ABU KULIT PADI UNTUK MEREDUKSI KEHILANGAN KALOR

>

Peneliti                         : Murni, Seno Darmanto, B. Setyoko, Rahmat
Sumber Dana    : Depdiknas (Beasiswa Unggulan)
            Pembakaran bata merah untuk industri rumah tangga dan kecil dilakukan dengan tungku permanen yang terbuat dari tanah liat. Pemakaian tungku bata merah jenis tidak permanen (bergerak) mengalami perkembangan cukup pesat sehubungan dengan kecenderungan industri bata merah mendekati sumber bahan baku. Tungku permanen ini biasa disebut tungku bergerak (Darmanto Dkk, 2002). Penemuan baru model dan bahan tungku terutama tungku bergerak ternyata masih jauh dari harapan industri kecil bata merah.
            Tujuan penelitian adalah untuk menentukan model tungku tidak permanen, menentukan bahan dinding tungku bergerak, panduan dalam membuat tungku bergerak berpengisi abu serta menentukan jenis dan kebutuhan bahan bakar tungku.
            Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa: temperatur pada dinding tungku yang diberi bahan pengisi abu mempunyai laju kenaikan yang lambat dan mempengaruhi waktu tinggal proses pembakaran, pembakaran bata merah dengan tungku diberi bahan pengisi abu menghasilkan bata berwarna merah tua, kekerasan bata merah juga cukup tinggi; kapasitas pembakaran bata merah juga bertambah sehubungan bata di dinding tungku sebelah dalam ikut terbakar dan matang, pembakaran bata merah dengan tungku diberi bahan pengisi abu membutuhkan waktu pembakaran lebih lama. Sehingga disarankan pengatur kadar air di dalam abu yang optimum akan memberikan sifat isolator yang opyimum pula. Kadar air dalam abu juga mempengaruhi waktu tinggal proses pembakaran.

Leave a comment

Filed under Tungku

>Dambut, Penemu Tungku Hemat Energi Dari Nabire

>JUBI—Sebuah adopsi teknologi sederhana ini agaknya menjawab kebutuhan masyarakat Nabire. Ia  membantu melestarikan hutan dan lingkungan hidup serta  meringankan beban masyarakat menyusul makin melambungnya harga bahan bakar minyak tanah.

Adalah Dambut Bernadus SSos, sang penemu tungku hemat energi itu. Ditemukan dan diproduksi pertama kalinya pada tahun 2005 silam. “Tungku ini merupakan hasil inovasi saya karena waktu itu orang-orang dan termasuk saya antre minyak tanah di kawasan Sanoba,” kata Bernadus kepada JUBI di kediamannya  di Jalan Suci Gg. 4, Kelurahan Siriwini, Nabire. Alat memasak berbentuk tungku ini dirancang untuk lebih menghemat pasokan bahan bakar kayu dan lebih mengoptimalkan panas. Dengannya orang dapat memasak lebih cepat dan tidak boros kayu. Dambut Bernardus memberi nama “Tungku Bole Cenderawasih Papua”. “Saya kasih nama begitu, karena tungku hemat energi yang saya produksi di Nabire ini mau menjawab kesulitan warga ketika harga minyak semakin mahal,” ujarnya. “Tetapi juga dengan menggunakan kayu secara berlebihan, tentu hutan kita jadi sasaran dan burung Cenderawasih yang ada di hutan akan semakin jauh dan punah akibat ulah manusia,” tambahnya.
Sepintas tungku itu berbentuk kecil. Agak portabel dan tidak berat. Tungku ini didesain sedemikian rupa  agar tak mudah membakar lantai rumah yang terbuat dari kayu. “Proses pembuatan tungku ini memang tidak susah,” ujarnya. Produk tungku yang dihasilkannya, cukup inovatif. “Tidak ada yang ajarkan, saya juga tidak ikut pelatihan pembuatan tungku. Ini saya bikin setelah putar otak,” aku Bernadus menceritakan awal mula usaha tungku tersebut.
Ayah 4 anak ini terus berusaha mempraktekan hingga menghasilkan bentuk nyata. Tapi awalnya memang tidak langsung jadi. Sempat beberapa kali gagal, karena tungku yang dibuatnya ada yang retak. “Tungku yang saya bikin ini tra bisa hancur, kitong bisa pakai selama bertahun-tahun,” katanya bernada promosi. Dia juga tak membantah jika ada orang tertentu meniru hasil inovasinya. “Ada, tapi tra mungkin dorang akan menyamai produk saya. Tungku yang saya produksi ini sangat khas,” timpal pria kelahiran Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, 1 Januari 1960 itu.
Bagaimana cara bikin tungku ini? Tanpa menjelaskan secara detail, Bernadus hanya berujar, “Sangat sederhana, Bung!”. Dia menjelaskan, tungku dapat  bekerja jika dibuat dengan prosedur yang baik. Pertama, mencoba mengetahui dan memahami bagaimana api dan sumbernya bekerja, dan kemudian membangun desain untuk mengefektifkan panas untuk kepentingan memasak. Sehingga tak banyak panas yang terbuang percuma. Makanya, supaya lebih optimal, tungku dilengkapi lubang perapian dan tiga lubang kecil untuk tempat sirkulasi udara. Kedua, Di bagian bawah tungku dibuat satu lubang berukuran secukupnya. Pada dasarnya, tungku tersebut dibuat dengan beberapa bahan baku yang terlebih dulu diadonkan. “Saya punya tungku ini tra akan retak biarpun kena panas api,” tandasnya dengan dialeg khas Papua.
Kebutuhan Rumah Tangga

“Dapur itu penting bagi sebuah rumah tangga. Untuk masak, ya dapur. Cuma mau pakai kompor atau tungku biasa ataukah tungku hemat energi ini, adalah pilihan masing-masing keluarga,” kata Bernadus yang juga mantan Kepala Sekolah SMA Negeri I Nabire ini.
Tungku baru hasil temuan Bernadus memang menjawab efesiensi dan penghematan energi. Beberapa orang yang sudah membeli dan memakai tungku itu,  Zita Douw misalnya, mengaku tak perlu cari dan beli kayu lagi. Cukup dengan potongan kayu, kita bisa masak makanan. “Dulu saya punya dapur masih pakai tungku biasa. Untuk masak makanan atau air, ya butuh banyak kayu. Sekarang tidak, karena saya pakai tungku hemat energi, tidak lagi butuh kayu api dalam jumlah banyak,” kata Zita kepada JUBI beberapa hari lalu di kompleks Pastoran Kristus Sahabat Kita Nabire.
Diakui Bernadus, proses pembuatan tungku Bole Cenderawasih Papua berbeda dengan jenis tungku lainnya. Bahan bakunya memang tidak susah, mudah didapat. Proses pembuatan yang sangat sederhana, tentu membutuhkan ketelitian dalam membuat adonan hingga hasil akhir. “Di Wamena dan Yahukimo juga sudah ada yang beli tungku ini,” imbuhnya.
Bernadus yakin, teknologi alternatif yang ditemukan empat tahun lalu itu sangat membantu orang lain. “Harganya terjangkau, Rp 250.000 per unit. Kalau yang ukuran besar Rp 450.000. Tungku ini akan mengurangi konsumsi kayu bakar yang berlebihan,” kata guru SMP Negeri 8 Nabire di Kampung Sanoba.
Kehebatan tungku ini sudah teruji. Bahkan pernah dipraktekan di hadapan banyak orang saat Festival Seni Budaya Papua IX di Nabire. “Pernah dialog interaktif di RRI Nabire, saat itu banyak respon positif dari para pendengar,” ujar pria yang menetap di Nabire tahun 1983 itu.
Belum Dilirik Pemerintah
Produk tungku hemat energi ala Dambut Bernadus, memang diakui kegunaan dan manfaatnya sebagai alat subtitusi (pengganti) alat masak kompor. Namun usaha pembuatan Tungku Boleh Cenderawasih Papua itu hingga kini belum dilirik pemerintah daerah. “Sampai sekarang belum ada perhatian dari pemerintah daerah untuk kami bisa kembangkan tungku ini sebagai solusi hemat pemakaian bahan bakar,” tutur mantan Kepala Sekolah SMA YPPK Adhi Luhur Nabire (1987-90) itu.
Bernadus juga tak mengerti mengapa pemerintah enggan memperhatikan usaha swadaya masyarakat. Termasuk usaha tungku yang dirintisnya sejak tahun 2005 silam.
Menurutnya, tungku yang diproduksinya itu merupakan sebuah alat masak hemat energi dengan proses memasak yang cepat dan didukung sirkulasi udara. Itu sebabnya, tungku tersebut dibuat sedemikian rupa sebagai hasil hasil inovatif Bernadus. “Mudah-mudahan pemerintah daerah mendukung dalam bentuk modal kerja. Rasanya kami terbeban apabila kami kurang menanggapi keinginan masyarakat untuk tetap memproduksi tungku ini. Kami dan masyarakat merasa lebih bersemangat melalui uluran tangan dan perhatian dari pemerintah dan pihak lain untuk membantu biaya produksinya,” tuturnya penuh harap.
Kini, usaha Tungku Bole Cenderawasih dikerjakan 3 orang. Tempat usahanya terletak disamping rumah Dambut Bernadus. Sebelumnya di Samabusa, tapi dipindahkan bersamaan pindah tempat tugas. Tungku hemat energi karya orisinil Bernadus ini pernah diikutkan dalam berbagai event pameran atau promosi produk lokal. Misalnya saat pagelaran Festival Seni Papua IX yang dipusat di Taman Gizi Oyehe Nabire, dua tahun lalu. Sebagai umat beragama, Bernadus berkeyakinan bahwa anugerah kasih yang diberikan Tuhan kepada dapat diwujudnyatakan kepada sesama. Salah satunya, orang lain bisa merasakan manfaat tungku buatan Bernandus. 
(Markus You)

Leave a comment

Filed under Tungku

>Warga Terpaksa Menggunakan Tungku

>

Setelah pontang-panting mencari elpiji ke sejumlah tempat dan tidak menemukannya, kaum ibu itu bingung dan gelisah. Harus menggunakan bahan bakar apa lagi untuk memasak karena minyak tanah sudah lama hilang. Mereka lalu mencari kayu bakar dan memasang tungku api di tepi jalan dan memasak beramai-ramai. Suasana itu terlihat di Jalan Beting Jaya, Kampung Beting, RT 003 dan RT 004 RW 18, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Selasa (16/12) siang. ”Semiskin-miskinnya saya baru kali ini mulai menggunakan kayu bakar untuk memasak,” kata Tati Wiyono (23), ibu rumah tangga.
Oleh Pascal S Bin Saju
Ia bersama kaum perempuan lainnya, seperti Tentram Karmin (43) dan Aisah Witno (59), memasang tungku api di tepi Jalan Beting Jaya, dekat pagar tembok depan rumah mereka.
Kaum ibu ini memasang tungku dan memasak di tepi jalan karena tidak ada lagi tempat di dalam rumah mereka untuk dipasangi tungku api. ”Dari dahulu kami kan sudah terbiasa memasak dengan menggunakan kompor minyak tanah, bukan tungku kayu api. Sekarang kami kok semakin mundur lagi,” kata Tati.
Ibu dua anak itu kemarin sedang menggoreng telur. Sambil menunggui air dalam ceret mendidih, Tentram juga sibuk mengupas bawang dan membersihkan sayur. Aisah menanak nasi.
Mereka mendapat kayu bakar berkat kemurahan hati Dharman (49), tokoh Kampung Beting. Dharman berinisiatif mencarikan kayu bakar untuk kaum ibu di kampungnya itu, termasuk untuk istrinya, di lokasi proyek renovasi bangunan sekolah dasar di Tugu Utara.
Tungku yang mereka gunakan siang itu dijadikan sebagai dapur umum oleh Dharman. Kaum ibu Kampung Beting yang kesulitan mendapatkan elpiji boleh memasak di sana. ”Dari minyak tanah kita ganti ke elpiji, lalu sekarang kayu bakar. Kita bukannya bertambah maju, tetapi malah semakin mundur ke zaman dahulu kala,” kata Tentram.
Mereka menilai, masalah itu sebagai langkah mundur dalam pelayanan pemerintah terhadap masyarakat di republik ini. “Mereka (pemerintah) yang membuat aturan agar kita tidak menggunakan minyak tanah dan beralih ke elpiji. Namun, mengapa kini malah elpijinya langka dan harganya pun cenderung naik terus,” kata Aisah.
Sudah sejak Senin awal pekan ini, sama seperti warga lain, mereka pontang-panting terus mencari elpiji. Suami-suami dan anak-anak mereka juga mencarinya, tetapi tidak bisa mendapatkan elpiji. Umumnya mereka mencari elpiji ukuran 3 kilogram. Akhir pekan lalu mereka masih sempat membeli Rp 18.000 per tabung.
”Tetapi hari ini (kemarin) harga elpiji ukuran 3 kilogram sudah mencapai Rp 20.000 dan tabung 12 kilogram berkisar Rp 85.000 hingga Rp 95.000. Harganya sudah sangat mahal dan langka,” kata Aisah.
Bagi mereka, tidak jadi soal jika kelangkaan elpiji terjadi pada saat bahan bakar pengganti, terutama minyak tanah, tersedia. ”Minyak tanah sudah lama hilang. Kalaupun ada, harganya Rp 10.000 per liter. Namun, kompor minyak tanah sudah telanjur dijual ke pengepul besi tua,” kata mereka.
Tidak hanya kaum ibu di Kampung Beting yang mengalami kesulitan mendapatkan elpiji dan beralih ke kayu bakar. Sebagian besar warga di Semper Barat, Rorotan, Marunda, dan juga warga lain di Jakarta sudah menggunakan kayu bakar.
Ny Nuris (48), ibu 10 anak, warga RT 001 RW 05, Semper Barat, menilai, pemerintah seperti tidak berdaya mengurusi rakyatnya. ”Saya mencari elpiji 3 kilogram ke sana kemari sejak pagi. Tiga agen di sekitar saya pun kosong. Saya baru mendapatnya menjelang siang di pasar, sekitar 1 km dari rumah seharga Rp 20.000 per tabung. Empat hari lalu saya beli dengan harga Rp 18.000 per tabung,” kata Fatima (45), warga Kalibaru, Cilincing.
Buruh serabutan ini juga sudah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Persoalan kisruhnya distribusi elpiji memang membuat dia susah payah mencari kayu bakar.
Kapan warga terbebas dari kesulitan memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk keperluan masak-memasak? Belum ada jawaban pasti. Janji-janji terus diumbar. Entah kapan….

Leave a comment

Filed under Tungku

>Tungku Keramik

>

Tungku pembakaran atau kiln adalah suatu tempat/ruangan dari batu bata tahan api yang dapat dipanaskan dengan bahan bakar atau listrik dan dipergunakan untuk membakar benda-benda keramik.
 Fungsi tungku pembakaran adalah untuk membakar benda-benda keramik yang disusun di dalamnya dan dibakar dengan menggunakan bahan bakar khusus (kayu, batu bara, minyak, gas, atau listrik) sampai semua panas menyebar dan membakar semua yang ada di dalam tungku itu. Pembakaran atau radiasi panas berlangsung di dalam tungku atau di bawah ruang bakar dan kelebihan asap keluar melalui saluran api atau cerobong tungku. Sirkulasi panas harus dibiarkan  secara merata dan bebas di sekeliling benda pada saat dibakar.
 Saat ini berbagai jenis tungku pembakaran dapat dijumpai baik di sentra-sentra kerajinan keramik (gerabah), studio keramik, maupun industri keramik. Penggunaan jenis tungku pembakaran yang digunakan sudah tentu dengan melihat beberapa faktor. Beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih atau merancang tungku pembakaran keramik ialah:
 a.     Jenis tungku.
Yang dimaksudkan dengan jenis tungku adalah sirkulasi api/jalannya api, bentuk tungku, ukuran/ kapasitas. bahan yanq digunakan.
b.    Kapasitas tungku pembakaran
Kapasitas erat kaitannya antara produktivitas dengan volume tungku (ruang pembakaran), sehingga perlu dipikirkan seberap ukuran tungku pembakaran yang harus dibuat.
c.     Suhu akhir yang ingin dicapai,
Dalam merancang tungku pembakaran perlu mengetahui jenis badan benda keramik yang akan dibakar, sehingga bahan baku untuk pembuatan tungku juga menyesuaikan. Untuk efisiensi dipilih tungku pembakaran yanga dapat mencapai suhu tinggi.
d.    Kondisi pembakaran yang diinginkan
Kondisi pembakaran yang akan dicapai untuk pembakaran jenis oksidasi, reduksi, atau netral  harus ditetapkan guna menentukan bentuk ruang bakar, alat pembakar (burner) dan damper.
e.     Jenis barang yang akan dibakar
Bahan tanah liat keramik yang dibakar dapat dibedakan menjaditerracotta/earthenware, stoneware atau porselin oleh sebab itu kita perlu menentukan jenis tungku, ukuran, dan bahan bakar yang akan digunakan.
f.     Jenis bahan bakar
Jenis bahan bakar yang akan digunakan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, apakah dengan  kayu, minyak, gas, batu bara, atau listrik.
g.    Lokasi tungku
Lokasi pembuatan tungku harus memperhatikan kondisi lingkunqan, di dalarn kota, pinggiran, halaman pabrik, garasi, dll.
h.     Ukuran plat/shelves
Ukuran plat tahan api juga harus diperhitunqkan untuk disesuaikan dengan ukuran plat yang telah ada karena yang ada di pasaran ukurannya terbatas.
 Berbagai macam tungku pembakaran yang dapat digunakan banyak jenisnya mulai dari yang sederhana hingga yang paling modern, sejalan dengan perjalanan waktu. Penggolongan jenis tungku dapat dibedakan berdasarkan bentuk, mode operasi, kontak panas, pemakaian nama penemunya, sirkulasi api, dan bahan bakar yang digunakan.
Tungku pembakaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut  menurut bahan bakar, aliran panas/ sirkulasi api, bentuk, kontak panas, cara operasi/proses pembakaran, pemakaian, dan penemunya. Namun dari berbagai klasifikasi tersebut hanya akan dijelaskan sebagian saja.
a.    Klasifikasi Tungku menurut Bahan Bakarnya 
Bahan apapun yang dapat terbakar dapat digunakan untuk membakar keramik, tetapi sejak dulu pembakaran mempergunakan kayu dan batu bara, sedangkan pada perkembangan terakhir pembakaran menggunakan minyak dan gas. Sekarang sumber panas yang baru untuk pembakaran keramik ialah listrik.
 Jenis tungku berdasarkan bahan bakar (sumber panas) yang digunakan dapat digolongkan menjadi lima macam, yaitu:
1).   Tungku bahan bakar gas
 Tungku pembakaran keramik  dengan bahan bakar gas saat  ini dirasakan relatlf Iebih murah dan mudah dibandingkan dengan tungku lainnya. Dengan menggunakan tungku gas maka kondisi pembakaran netral, oksidasi atau reduksi dapat dengan mudah dicapai, dengan mengatur gas, saluran udara primer dan damper.
2).   Tungku listrik,
 Tungku listrik merupakan alat pembakaran benda keramik dengan menggunakan tenaga listrik. Tenaga listrik tersebut diubah menjadi tenaga panas dan tenaga panas inilah yang akan mematangakan badan tanah liat menjadi keramik. Pembakaran dengan tungku listrik merupakan cara pembakaran yang paling mudah dan efisien karena dalam tungku listrik biasanya telah dilengkapi perlengkapan kontrol yang memadai, seperti saklar/tombol penyala yang sekaligus berfungsi sebagai regulator (pengatur energi listrik), program pembakaran (waktu maupun suhu pembakaran), thermocouple-pyrometer sebagai penunjuk suhu bakar.
3).   Tungku bahan bakar padat (kayu, batu bara),
 Tungku pembakaran keramik  dengan bahan bakar kayu merupakan cara pembakaran tradisional yang sederhana. Salah satu pembakaran sederhana yaitu pembakaran sistem ladang. Cara ini dilakukan di ladang terbuka dengan menggunakan bahan bakar jerami, kayu, serbuk gergaji atau bahan yang mudah terbakar lainnya. Jenis ini merupakan salah satu cara pembakaran keramik yang paling tua. Saat ini tungku tradisional yang paling banyak dijumpai adalah tungku bak terbuka yang banyak digunakan oleh perajin.
4).   Tungku bahan bakar minyak,
Tungku pembakaran benda keramik menggunakan bahan bakar minyak tanah biasanya dilakukan dengan tungku catenary. Pembakaran dengan tungku catenary lebih rumit dari pada tungku bak terbuka, untuk mengoperasikan jenis tungku ini diperlukan pengalaman. 
Tungku jenis ini memerlukan alat untuk pengapian (burner) yang didesain secara khusus biasanya dilengkapi dengan alat penghembus udara (blower), pada tungku dengan bahan minyak tanah ini tekanan minyak sangat diperlukan sehingga penempatan drum atau tanqki minyak harus dletakkan pada tempat yang cukup tinggi sehingga denqan gaya gravitasi bumi minyak dapat mengalir apabila kran dibuka. 
Secara umum cara kerja kompor pembakar adalah untuk menghasilkan panas dengan merubah minyak menjadi gas dengan bantuan udara baik alami (sekitar) maupun udara dari blower sehingga mudah terbakar.

Leave a comment

Filed under Tungku

>TUNGKU PEMBUATAN GULA MERAH DENGAN BAHAN BAKAR BATU BARA

>

Untuk menghasilkan gula yang baik diperlukan kayu bakar yang tua dan kering, sehingga air nira dari pohon dapat dididihkan dengan cepat. Jika pendidihan lambat, maka fermentasi dapat terjadi sehingga terbentuk asam cuka yang mengakibatkan gula terasa asam dan lunak karena bersifat higroskopis (menyerap lembab).
Di banyak daerah, kayu kering dan tua semakin sulit didapat terlebih lagi pada musim hujan. Hal ini membuka peluang bagi batu bara sebagai bahan bakar pengganti untuk industri gula merah karena batu bara selalu tersedia baik di musim hujan atau kemarau dengan mutu yang tetap.

Pemasakan dengan batu bara lebih cepat dibanding penggunaan kayu bakar, sehingga gula yang dihasilkan lebih manis dan kering. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 250 kg gula merah bahan baku dan waktu pemasakan yang diperlukan :

  • Dengan batu bara, sebanyak 280kg selama 6 jam
  • Dengan kayu, sebanyak 720 kg selama 8 jam
    Harga 720 kg kayu belah = Rp 86.500,-
    280 kg batu bara = Rp 42.000,-
    (harga di Bengkulu).

Tungku kedua untuk memanaskan air nira di wajan kedua dengan memanfaatkan panas dari gas buang dari tungku pertama. Penambahan air nira di wajan utama selalu diambil dari wajan kedua yang sudah panas.
Tungku dibuat dari bata merah dengan campuran pasir dan lempung sebagai plester (perbandingan 4 : 1). Dinding luar tungku dapat diplester dengan semen biasa
Biaya pembuatan tungku untuk wajan berdiameter 90 cm kurang lebih Rp 60.000,- ditambah sebuah kipas angin kecil seharga Rp 50.000,-

Penggunaan Batu Bara
Batu bara yang digunakan adalah batu bara bongkahan berukuran 2 – 6 cm, atau dapat juga digunakan briket batu bara tipe telur Penyalaan awal batu bara dilakukan dengan potongan-potongan kayu yang diletakkan di atas kisi (5).
Potongan-potongan kayu dibakar, kemudian butir-butir batu bara diletakkan di atasnya. Setelah api agak besar kipas (9) dihidupkan sehingga api semakin membesar. Wajan diletakkan di kedua pemanas dan air nira dimasukkan.
Selanjutnya batu bara yang akan ditambahkan disimpan di ruang bahan bakar (1). Disini batu bara mengalami pirolisis sehingga pada saat didorong ke ruang bakar (5) zat terbangnya sudah berkurang dan terbakar secara tak berasap. Batu bara segar yang baru disimpan lagi di ruang bahan bakar (1) agar mengalami proses pirolisis. Demikian seterusnya proses pembakaran dalam tungku ini yang disebut tungku pirolisis pemanas ganda.
Setelah penguapan nira berlangsung, nira di wajan tungku I (2) semakin berkurang karena menguap, tambahkan nira yang diambil dari wajan tungku II (3) yang sudah dipanaskan dengan memanfaatkan panas dari gas buang yang keluar dari saluran gas buang panas (7). Wajan di tungku II (3) diisi kembali dengan nira segar. Setelah penguapan terus berlangsung, nira di wajan tungku I (2) menjadi kental siap untuk dicetak.
Supaya wajan yang digunakan tahan lama, maka sebelum dipanaskan bagian bawah wajan dicat dengan kapur, sehingga gas-gas yang dapat merusak wajan dapat dinetralkan. Selain bahan bakar batu bara dapat juga digunakan briket batu bara non karbonisasi atau briket bio batu bara.

Banyak hasil yang telah dimasyarakatkan oleh tekMIRA berkaitan dengan penggunaan batu bara ini, antara lain :

- Berbagai tungku rumah tangga dengan menggunakan briket.
- Berbagai tungku untuk industri rumah tangga seperti untuk dodol, tahu, tempe, jasa boga dan sebagainya.
- Berbagai tungku pembakaran bata/ genteng, kapur dengan batu bara.

Leave a comment

Filed under Tungku

>Tungku Ubin Solusi Hemat Energi

>

Seorang pemilik rumah berhasil mengatasi tingginya tagihan gas dengan mengikuti tips dari Abad Pertengahan.
Perusahaan listrik menghabiskan dana jutaan untuk teknologi terbaru demi penghematan energi, sementara Peter Breuer berhasil memotong tagihan gas-nya dari 20 Pound menjadi 5 Pound perbulan menggunakan desain tungku dari abad 14.
Tungku ubin Hongaria ini sangat efektif untuk menghangatkan rumah Mr Breuer, sehingga kakek berusia 80 tahun ini dapat mematikan pemanas sentral miliknya, demikian lansir The Daily Mail.
Hanya dibutuhkan satu bundel kecil kayu yang seringkali didapat gratis dari pedagang lokal, untuk membuat nyaman rumahnya sepanjang hari.
“Saya tinggal di rumah yang cukup besar dan ini salah satu alasan mengapa saya menggunakan tungku tersebut,” tutur Mr Breuer, pensiunan pengacara yang mengurusi hal-hal bea cukai dan pajak.
“Pada kebanyakan tungku, Anda akan dihangatkan ketika tungku tersebut masih menyala, tapi tungku saya ini sangat spesial karena selain berfungsi seperti tungku biasa juga dapat menjadi penyimpanan panas karena terdapat banyak tembikar di dalamnya yang memanas dan menyebarkan panasnya melalui ubin.”
Mr Breuer memiliki pemanas air elektrik, jadi ia hanya menggunakan gas untuk memasak.
Untuk pemasangan tungku Hongaria ini, ia harus merogoh kocek tak kurang dari 3,000 Poundsterling, kira-kira sama seperti memasang pemanas sentral.

Leave a comment

Filed under Tungku

>Tungku Jimat

>

Tungku Supriyanto Berkonsep Energi Petani

Kompas.com Kamis, 16 April 2009 | 12:03 WIB
Oleh FX Puniman

Beberapa bulan setelah menjadi Direktur Hutan Pendidikan Gunung Walat, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun 2003, Supriyanto melihat warga setempat sering menebangi pohon untuk kayu bakar. Hasil survei menyebutkan, dalam sehari sekitar 10 meter kubik kayu bakar keluar dari hutan pendidikan Gunung Walat.
Dalam benak Supriyanto muncul pertanyaan, mengapa penduduk tidak memilih menggunakan ranting pohon untuk kayu bakar? Mengapa mereka memilih menebang pohon? Dari para penebang pohon itu pula dia memperoleh jawabannya. Rupanya, warga sekitar Gunung Walat lebih suka menebang pohon karena energi api yang dihasilkan ranting tidak cukup besar.
Di sisi lain, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini merasa khawatir penebangan pohon akan berdampak terhadap krisis energi, terutama bahan bakar fosil yang terus menipis.
Supriyanto lalu terpikir memanfaatkan energi yang berasal dari biomassa, seperti rumput, limbah kayu, semak belukar, ranting kayu, dan potongan bambu, yang sesungguhnya amat mudah diperoleh di pekarangan.
Berdasarkan temuan dan kekhawatiran itulah, Supriyanto kemudian mulai memfokuskan diri untuk membuat teknologi pedesaan yang sederhana dengan bahan bakar yang mudah diperoleh dari limbah lingkungan setempat.
”Konsep yang saya pergunakan adalah farmer energy atau energi petani. Teknologinya harus sederhana, mudah, murah, tidak berisiko, tetapi efisiensinya tinggi,” katanya.
Ia lalu menjadikan tungku sebagai pilihan untuk diteliti. Beberapa artikel tentang tungku di berbagai negara, termasuk dari Indonesia, dia pelajari.
Bertemu ahli arang
Di tengah upaya mempelajari tungku tersebut, Supriyanto yang juga peneliti di Seameo Biotrop (Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis) bertemu dengan Robert Flanagan, ahli bio-charcoal (arang) dari Finlandia yang menjadi tamu Biotrop.
Flanagan dikenal sebagai salah seorang peneliti yang mengembangkan tungku pyrolysis di China. Ia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bambu Cina (Inbar). Bersama Flanagan, Supriyanto sering terlibat dalam berbagai diskusi tentang penelitian tungku untuk model kebutuhan energi yang sedang dikerjakan. Penelitian mulai dilakukan sejak sekitar tahun 2005. Dia mencoba mulai dari membuat tungku tradisional berbahan dasar tanah liat, semen, besi, dan kaleng bekas drum oli.
”Barulah pada percobaan yang kesembilan bisa berhasil. Sebuah tungku yang ideal untuk warga setempat terwujud. Tungku ini saya beri nama tungku ’Jimat’, kependekan dari enerji hemat agar mudah diingat dan diucapkan,” kata Supriyanto.

”Tungku Jimat relatif sederhana dan berbahan limbah. Bahan bakarnya juga merupakan limbah dan dibuat dengan konsep energi petani,” katanya seraya menyebutkan, pembuatan tungku dilakukan di bengkel perajin musik tradisional di daerah Sukabumi.

Hemat energi
Mantan Pembantu Dekan III Fakultas Kehutanan IPB ini mengemukakan, teknologi tungku dengan konsep energi petani yang dikembangkan itu relatif efisien. Secara teknis di sini juga menggambarkan proses pyrolysis, yakni konsep teknik pembakaran yang meminimalkan penggunaan oksigen. Ruang yang minim oksigen itu lalu dimampatkan untuk meningkatkan suhu sehingga timbul asap. Asap itu kemudian diubah menjadi gas melalui satu ruangan bersuhu antara 300 derajat dan 600 derajat celsius.
Pada saat terjadi proses pyrolysis, ada tiga sumber panas, yakni kayu atau bahan organik lain untuk menghasilkan api dan asap. Asap kemudian diubah menjadi gas. Melalui ruangan bersuhu tinggi, gas terbakar menjadi energi. Sisa dari proses itu menghasilkan arang. Arang inilah yang lalu menjadi bahan bakar ketiga.
Di dalam konsep itu, secara teknis harus ada alat lain, yakni generator yang terbuat dari tabung besi. Fungsinya untuk menyimpan dan menimbulkan panas yang berasal dari bahan bakar yang terbakar, juga bisa menjaga ruangan agar tetap bersuhu 300-600 derajat celsius. Pencapaian suhu ini penting untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna. Sementara itu, akselerator berfungsi mempercepat penyemprotan udara panas.
Tungku Jimat, menurut Supriyanto, sangat tepat untuk masyarakat pedesaan, daerah transmigrasi, warga pinggiran kota, dan pedagang makanan kaki lima.
”Tungku Jimat ini hemat energi, bahan bakarnya juga gratis karena berasal dari limbah yang diperoleh dari pekarangan rumah, tak merusak lingkungan, dan berbasis pertanian,” tambahnya.
Di samping itu, bahan baku tungku juga berasal dari limbah yang relatif murah, seperti drum oli, dan tak berisiko meledak. Energi yang dihasilkan pun cukup besar.
”Oleh karena tak menggunakan bahan bakar minyak, penggunaan tungku Jimat bisa menghemat pengeluaran uang belanja keluarga,” katanya.
Kini, tungku Jimat dalam proses pengujian untuk memenuhi kriteria Standar Industri Indonesia (SII) guna memperoleh hak kekayaan intelektual.
Sangat efisien
”Uji kinerja dan teknis untuk memperoleh efisiensi termal yang memenuhi SII sedang dilakukan,” tutur Supriyanto yang juga berkonsultasi dengan Profesor Teiss, ahli energi petani dari Belanda.
Tentang efisiensi tungku ciptaannya itu, menurut Supriyanto, bisa dibuktikan karena dari 1 kilogram bahan bakar berupa ranting, limbah kayu, dan bambu, dapat digunakan untuk memasak selama sekitar dua jam. Limbahnya hanya berupa 10 gram abu.
”Jadi, dari 1.000 gram bahan bakar yang digunakan itu, tinggal 10 gram yang menjadi abu. Sebanyak 990 gram telah dikonversi menjadi energi atau bisa dikatakan tingkat efisiensinya sebesar 99 persen,” ujar Supriyanto tentang penelitiannya selama sekitar tiga tahun itu.
FX Puniman, Wartawan Tinggal di Bogor

Leave a comment

Filed under Tungku