Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Advertisements

1 Comment

Filed under Uncategorized

>Jasad Mbah Maridjan Dikenali dari Batik dan Sarungnya

>

TEMPO InteraktifJakarta – Mbah Maridjan ikut menjadi korban tewas karena keganasan awan panas atau wedus gembel. Jenazahnya ditemukan di rumah dalam keadaan tak bernyawa oleh relawan Tim SAR pada Rabu (27/10) 06.05 WIB di kamar mandi rumahnya dalam keadaan sujud.

“Kami dapat informasi soal meninggalnya Mbah Maridjan dari tim evakuasi,” kata Trisno Heru Nugroho, Humas RSUP dr Sardjito Yogyakarta, Rabu (27/10).

Jenazah juru kunci Merapi itu saat ini masih berada di RSUP dr Sardjito untuk diidentifikasi lebih lanjut. Ia bisa dikenali diawal evakuasi dengan tanda pakaaian batik dan sarung yang dikenakan sehari-hari.

Namun, kata dia, untuk kepastian secara forensik masih dalam penanganan dokter ahli forensik RSUP dr Sardjito.

Saat Tempo di lokasi kejadian, tampak rumah Mbah Marijan rusak parah, begitu pula dengan masjid yang berada di sisi kanan rumahnya. Rumah-rumah di dusun Kinahrejo rusak parah karena terjangan awan panas Merapi yang biasa diebut wedus gembel.

MUH SYAIFULLAH

Leave a comment

Filed under Berita

>Kisah Korban Tsunami: Gelombang Pertama Setinggi 8 Meter

>

TEMPO InteraktifPadang – Tsunami menerjang Muntei Barubaru, daerah pesisir barat Pulau Pagai Utara hingga setinggi pohon kelapa. Rida, 16 tahun, warga yang selamat mengatakan tsunami terjadi 10 menit setelah gempa.
Ia mengatakan awalnya gempa yang datang hanya dianggap remeh, karena itu warga kembali ke rumah.
“Awalnya gempa tidak begitu keras, hanya bergoyang tetapi lama. Saya sekeluarga keluar rumah, lalu 10 menit kemudian tiba-tiba terdengar letusan yang sangat kuat dari arah laut, dan datang gelombang pertama dari arah kanan kampung dengan ketinggian 8 meter dan masuk ke kampung.”
“Kami melarikan diri ke arah bukit yang berjarak 1 kilometer, anak saya dibawa suami. Gelombang kedua datang sesaat kemudian dari arah kanan kampung, airnya seperti bertepuk di tengah dan menyapu kampung dan menghancurkan seluruh bangunan,” kata Rida.

Warga Muntei yang selamat adalah yang berhasil melarikan diri sekencangnya menghindari air yang membawa pohon-pohon bakau yang tercabut, pohon kelapa, terumbu karang dan batu karang di pantai.

“Malam itu kami tinggal di bukit di dalam pondok yang pernah didirikan untuk mengungsi saat gempa 2007. Tsunami hanya berlangsung tidak lama, hanya dua gelombang itu yang tinggi. Malamnya para lelaki mencari warga yang selamat. Kalau terdengar rintihan baru bisa tahu karena malam gelap gulita,” kata Rida.

Keesokan harinya baru terlihat kampungnya hancur rata dengan tanah, rumah, gereja, masjid, sekolah hilang tersapu tsunami. Tidak ada bangunan yang tersisa. Korban tewas ditemukan di bawah puing rumah, terhimpit pohon dan tersangkut di batang kayu yang masih berdiri.

“Pada Selasa ditemukan 40 warga yang tewas. Keluarga saya selamat semua, yang tewas dijajarkan di jalan. Lalu dua warga yang kuat tenaganya berjalan kaki ke Sikakap meminta bantuan untuk kami,” kata Rida.

Ia mengatakan untuk makanan mereka mencari keladi dan pisang dan memakannya. Bantuan ke Muntei datang Rabu pagi.

Rabu ini baru 80 korban tewas ditemukan dan 102 masih hilang. Hanya 40 orang yang selamat, 20 orang di antaranya luka dan dibawa ke Sikakap.

Menurut Supri Lindra, jurnalis lokal yang ke lokasi, saat ini telah didirikan dapur umum dan para pengungsi telah diberikan tenda terpal dan makanan siap saji serta makanan instan dan air minum.

“Yang terlihat di kampung ini pucuk kelapa mati tanda bekas kena air laut dan pondisi rumah ikut tercongkel,” katanya. Jenazah sore ini dikuburkan masal di Muntei.

FEBRIANTI

Leave a comment

Filed under Berita

>Gunung Merapi Meletus

>

TEMPO InteraktifYOGYAKARTA – Gunung berapi aktif di Indonesia, Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas yang tercatat sejak pukul 17.02 WIB. ” Sejak 17.02 WIB hingga 17.34 WIB terjadi empat kali awan panas dan sampai sekarang awan panas terus muncul susul menyusul tidak berhenti” kata Surono, Kepala Pisat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi di Yogyakarta, Selasa 26 Oktober 2010. 
Menurut dia, munculnya awan panas tersebut menjadi tanda sebagai erupsi Gunung Merapi. Awan panas pertama yang muncul pada pukul 17.02 WIb mengarah ke barat. Namun awan panas yang berikutnya tidak dapat terpantau dengan baik karena kondisi cuaca di puncak Merapi cukup gelap dan hujan.
Sirine bahaya di Kaliurang, Sleman berbunyi pada pukul 17.57 WIB. Pada pukul 18.05 WIB Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menarik semua petugas dari pos pengamatan.
” Pada 2006, awan panas terjadi selama tujuh menit. Namun pada tahun ini, awan panas sudah terjadi lebih dari 20 menit” katanya.
Lamanya awan panas tersebut, lanjut dia, menunjukkan energi yang cukup besar. Pada pukul 18.00 WIB terdengar letusan sebanyak tiga kali yang terdengar dari pos Jrakah dan pos Selo yang disusul dengan asap membumbung setinggi 1,5 kilometer mengarah ke selatan. ” Tipe letusan Merapi dipastikan eksplosif” ujarnya.
WDA | ANT 

Leave a comment

Filed under Berita

>Detik-detik Letusan Merapi

>

TEMPO InteraktifYogyakarta -Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta merilis kronologi letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10/2010). BPPTK mencatat sejak pukul 17.02, gunung Merapi mulai mengeluarkan awan panas. Arah luncuran awan panas ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan tenggara.

Terjadinya luncuran awan panas beberapa kali terekam pada menit-menit berikutnya
dengan durasi waktu antara 2 menit hingga paling lama terjadi selama 33 menit. Pada pukul 18.54 aktifitas awan panas mereda.

“Indikasinya sudah sangat jelas, Merapi menepati janjinya, itulah sebabnya saya meminta petugas di pos pengamatan untuk mundur. Kami sampaikan informasi ke Satlak Penanggulangan Bencana masing-masing kabupaten segera membunyikan sirine tanda bahaya,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Mineral di Kantor BPPTK, Selasa (26/10).

Pemantauan secara visual melalui kamera CCTV yang terpasang di bukit Plawangan Kaliurang, tidak bisa dilakukan karena cuaca buruk dan terhalang kabut tebal. Kondisi malam hari yang gelap gulita itu membuat pengamatan tak bisa optimal dilakukan dengan bantuan kamera pemantau. Energi letusan Merapi kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tahun sebelumnya seperti tahun 2006 lalu.

Petugas di pos pengamatan melaporkan mendengar ada suara gemuruh pada pukul 18.45 dari Pos Jrakah dan Pos Selo dan terjadi suara dentuman tiga kali. Bahkan dilaporkan dari pos pengamatan Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 kilometer dari puncak.

”Masa krisis Merapi masih belum lewat, kami terus melakukan pemantauan dari alat seismik masih bisa memantau,” kata dia.

Mengenai penyelamatan warga yang diperkirakan terjebak saat terjadi luncuran awan panas, secara pribadi Surono merasa sedih bahkan dirinya sempat menangis karena sudah memberikan peringatan sebelumnya.

“BPPTK sudah merekomendasikan daerah mana saja yang aman, bukan polisi yang harus mengawasi. Masa krisis belum lewat, radius awan panas belum terpantau karena cuaca tak memungkinkan pemantauan visual,” kata dia.

MUH SYAIFULLAH

Leave a comment

Filed under Berita

>Gugur dalam Tugas, Mbah Maridjan Bisa Naik Pangkat

>

TEMPO InteraktifYogyakarta – Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan dianggap gugur dalam tugas ketika erupsi Gunung Merapi yang membuatnya meninggal Rabu dini hari. Karena itu Mbah Maridjan bisa memperoleh kenaikan pangkat dari Keraton Yogyakarta.

“Kenaikan pangkat itu bisa diberikan setingkat lebih tinggi atau beberapa tingkat di atasnya,” kata Manggala Yudha Keraton Yogyakarta yang juga adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Yudhaningrat, ketika dihubungi, Rabu, (27/10).

Menurut Yudhaningrat, pangkat yang disandang Mbah Maridjan saat ini masuk kategori kliwon atau semacam perwira pertama di lingkungan TNI dan Polri. Jika mendapat kenaikan pangkat, maka pangkat Mbah Maridjan berganti menjadi Mas Wedono.

Mengenai penggantian Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi, Yudhaningrat mengatakan merupakan kewenangan Sultan sebagai Raja Jawa, yang memiliki otoritas mengangkat juru kunci Gunung Merapi.

Pemberian juru kunci Gunung Merapi ini biasanya diprioritaskan untuk anak keturunan Mbah Maridjan. “Anaknya akan ditanya apakah bersedia menggantikan. Kalau tidak mau baru diberikan kepada orang lain,” kata Yudhaningrat.

Sultan sendiri menyatakan belum akan terburu-buru mencari pengganti Mbah Maridjan. “Menunggu kondisi sudah baik, jadi tidak terburu-buru,” kata Sultan. Penggantian juru kunci menurut Sultan akan melalui proses.

BERNADA RURIT

Leave a comment

Filed under Berita

>kompor atau tungku / pawon yang digunakan PLTU

>

Bagi yang sudah paham tentang kerja PLTU tdak perlu membaca posting ini. Posting ini saya dedikasikan kepada adik – adik Sekolah Dasar, SMP serta siapa saja yang memang tidak tahu atau buta sama sekali tentang PLTU.


BOILER & BAHAN BAKAR


Foto : Teko
Berbicara operasi PLTU berarti kita berbicara tentang kerja merebus air. Sederhananya mari kita bayangkan atau kita gambarkan sebagai berikut. Ambil satu cerek atau teko yang terbuat dari logam ( Bahasa Cilacap : Ceret ) yang biasa untuk memasak air. Teko mempunyai leher untuk menuangkan air, ada lubang teko untuk mengisi air dan pegangan untuk mengangkatnya. Untuk memasak air dengan teko diperlukan kompor atau tungku ( Bhs Cilacap : Pawon ). Nah tungku atau kompor atau Pawon ini berfungsi untuk memanaskan air. Kompor / Pawon dan teko ini dalam bahasa teknis PLTU disebut Boiler ( bahasa inggris untuk pemanas atau alat untuk merebus ).



Foto : Pawon dengan kayu bakar


Apakah bahan bakar PLTU ? Bahan bakar PLTU bisa dilihat dari kompor atau tungku / pawon yang digunakan, bisa minyak, bisa gas dan bisa kayu atau arang. Bahan bakar batu bara bisa disamakan dengan bahan bakar kayu bakar untuk tungku / pawon.


Untuk PLTU batubara kita bisa mulai menggambarkannya dengan merebus air dengan teko ( ceret ) menggunakan tungku ( Pawon ) berbahan bakar kayu bakar. Kayu bakar identik dengan batubara karena batubara sebenarnya berasal dari kayu yang tertimbun tanah ratusan hingga jutaan tahun yang lalu hingga mengeras. Kayu bakar akan memanaskan air dalam teko hingga mendidih. Saat mendidih air berubah menjadi uap. Uap ini akan keluar melalui leher teko dengan kecepatan yang cukup kencang. Bahkan dibeberapa teko / ceret moderen leher teko diberi penutup dengan lubang kecil sehingga saat air mendidih dan uap keluar dari lubang ini dengan bunyi yang kencang. Bunyi ini memberitahu sipemilik bahwa air sudah mendidih. Inilah urutan kerja yang paling penting dari PLTU yaitu merebus air di dalam teko yang dalam istilah teknis PLTU di sebut Boiler.


Turbine & Generator Listrik



Foto : Selubung luar Turbin
Generator listrik adalah komponen utama yang mengubah energi putar menjadi energi listrik. Secara sederhana generator ini dapat kita gambarkan dengan dinamo sepeda. Pada jaman saya masih anak – anak lampu sepeda dihidupkan dengan dinamo kecil yang menempel di roda depan. Roda depan ini yang membantu putaran dinamo sehingga menghasilkan listrik. Kalau sepeda melambat maka lampupun akan meredup. Nah dalam PLTU generator listrik yang tentunya berukuran besar digerakan oleh alat pemutar yang disebut turbin.


( Foto : Baling Baling di dalam Turbin )


Kembali ke air yang berubah menjadi uap dalam teko. Apabila kita menempelkan baling – baling ke mulut teko yang menyemprotkan uap air maka baling – baling ini akan berputar. Nah baling – baling ini kita sebut sebagai Turbin. Turbin mempunyai poros yang dikopel / dihubungkan satu poros dengan generator. Generator akan berputar dan menghasilkan listrik.



Konsep sederhana ini menggambarkan tentang operasi utama dari PLTU : Kayu Bakar, Kompor, Teko, Baling – baling dan Generator listrik. Disini terjadi perubahan energi : energi panas kayu bakar berubah menjadi energi gerak ( mekanik ) baling – baling / turbin dan berubah menjadi energi listrik melalui generator. ( Foto ; Pemasangan generator di PLTU )


UAP & ASAP
Foto : Flue gas stack & ESP


Dari cerita teko / cerek di atas dihasilkan dua produk ada asap dan ada uap. Yang pertama adalah asap yang berasal dari kayu bakar dan yang kedua adalah uap yang berasal dari air yang dipanaskan. Demikian juga PLTU. PLTU mempunyai uap dari air yang dipanaskan dan asap dari hasil pembakaran batubara untuk pemanasan air. Asap dan Uap ini ditangani secara berbeda.


Asap kayu bakar ini tentu saja akan menyesakan paru – paru kalau terhisap oleh manusia. Oleh sebab itu asap PLTU yang berasal dari batubara ini harus ditangani secara serius sehingga tidak menyebabkan polusi lingkungan. Batubara yang dibakar mempunyai kemiripan dengan kayu yang dibakar. Ada abu yang jatuh karena ukuran debunya yang relative besar dan ada yang terbawa terbang karena ukurannya yang sangat kecil dan ringan. Di dalam PLTU debu yang berat ini langsung jatuh di bawah tungku Boiler, di kumpulkan dan di angkut ketempat penyimpanan debu ( Ash Yard / Storage ) sedang debu ringan yang terbawa terbang akan ditangani oleh ESP ( Electrostatic Precipitator ) yaitu alat penangkap debu. Melalui proses elektrostatik debu – debu kecil ini ditangkap. Bagaimana menangkapnya? Masih ingat pelajaran fisika di kelas 5 SD dulu kalau kita menggosok – gosokan penggaris mika ( plastik ) ke rambut kita yang kering dan kita tempelkan ke sobekan – sobekan kertas maka kertas itu akan tertarik atau menempel di penggaris ? Atau bila kita dekatkan ke tangan maka bulu – bulu tangan kita akan berdiri karena tertarik. Lalu apakah yang menarik itu ? Yang menarik itu adalah energi elektrostatik yang dapat ditimbulkan ketika bahan mika digosokkan ke bulu atau rambut yang kering. Jadi energi electrostatik ini yang digunakan untuk menarik debu – debu kecil yang terbawa terbang. Tentu saja teknologinya bukan dengan menggosok – gosokan mika tapi energi ini dibangkitkan melalui proses teknologi listrik di dalam ESP. Asap dan debu – debu yang sangat kecil yang tidak tertangkap ESP kemudian dialirkan melalui cerobong asap yang disebut Flue Gas Stack ( Chimney ) ke angkasa.


Bagaimana dengan uap air yang dihasilkan dari pemanasan air dengan suhu tinggi ? Uap air inilah yang digunakan untuk menggerakan baling baling turbin dan memutar generator listrik untuk menghasilkan energi listrik. Proses ini terjadi di dalam boiler dan turbin.

Bagaimana penanganan uap airnya ? Uap air yang keluar dari teko tentu saja akan langsung terbang ke udara. Tetapi di PLTU uap air ini tidak dibiarkan terbang keudara. Uap air dari Boiler yang kemudian masuk ke dalam turbin dan menggerakan baling – baling akan dikembalikan kembali bentuknya menjadi air. Caranya ? Ingat pelajaran fisika tentang perubahan bentuk. Uap akan menjadi air kembali bila didinginkan. Nah di PLTU ini uap kembali di dinginkan hingga menjadi air kembali. Pendinginnya adalah air juga. Air yang mana ? PLTU yang berlokasi dipinggir laut / pantai dapat dipastikan bahwa pendinginnya diambil dari air laut. Air laut dialirkan kedalam PLTU dan dimasukan ke dalam pipa pia pendingin yang disebut kondensor. Kemudian uap air dialirkan ke dalam ruang kondensor dan memindahkan panasnya ke air pendingin yang bersal dari laut. Uap menjadi dingin dan kembali menjadi air sedang air laut yang berfungsi sebagai pendingin menerima panas dari uap menjadi hangat dan dikembalikan ke laut.

Kenapa uap air dalam PLTU dikembalikan ke bentuk air kembali ? Ya karena air dari uap tersebut akan digunakan kembali, direbus kembali di dalam boiler dan menggerakan turbin kemudian didinginkan dan menjadi air kembali. Direbus kembali. Jadi air ini akan terus menjalani tugasnya. Dalam istilah teknis PLTU air ini disebut feedwater. Kalau dalam siklus sempurna secara teoritis air yang diubah menjadi uap kemudian didinginkan kembali menjadi air akan mempunyai volume yang sama. Tetapi pada prakteknya tidak ada yang sempurna. Ada saja uap air yang lepas keudara atau berubah menjadi gas sehingga saat didinginkan kembali volumenya tidaklah sama dengan volume sebelum direbus. PLTU membutuhkan volume air feedwater yang tetap. Lalu bagaimana mengganti air yang hilang ? Sederhana saja caranya. Ya ditambahkan saja sesuai dengan yang hilang. Istilah teknis air tambahan ini adalah make-up water. Jadi air yang masuk ke dalam Boiler atau teko PLTU ini adalah feedwater ditambah make-up water.


KEBUTUHAN AIR


Membaca cerita di atas kebutuhan air PLTU dibagi menjadi dua yaitu pertama yang digunakan untuk pendingin dan kedua yang direbus di dalam boiler untuk di ubah menjadi uap. Keduanya berasal dari laut hanya kegunaan dan penanganannya berbeda. Yang menjadi pendingin dibuang langsung ke laut. Yang satunya lagi harus dimurnikan atau di de-mineralisasi dahulu sebelum di masukan ke dalam Boiler atau teko PLTU untuk di rebus. Mengapa ? Masih ingat bahwa teko atau cerek yang karena begitu sering digunakan untuk memasak air akan terdapat kerak di dalamnya ? Kerak yang menempel di dalam teko / cerek tersebut berasal dari mineral atau kotoran halus di dalam air. Nah untuk menjamin umur Boiler PLTU maka proses kerak atau juga korosi di dalam boiler PLTU harus diminimalkan dengan cara pemurnian / de-mineralisasi air sebelum masuk boiler.


Limbah PLTU yang mana ?


Dari proses kerja di atas dari manakah asal limbah PLTU ? Limbah PLTU berasal pertama tentu saja dari asap dan gas yang berasal dari pembakaran batubara. Kedua ( ini sebetulnya bukan limbah ) air pendingin dari laut yang menjadi hangat dan dibuang kembali ke laut. Ketiga adalah dengan cara apa water treatment atau pengolah air dilakukan. Limbah juga bisa berasal dari sini. Berbahayakah bagi manusia dan lingkungan ? Ya tentu saja akan tergantung dari cara penangannya sebelum di lepas ke lingkungan. Misalnya besaran dan volume partikel debu ( fly ash ) yang diperbolehkan dilepas ke udara. Suhu air pendingin yang diperbolehkan sebelum di kembalikan kelaut sehingga tidak mengganggu biota laut. Penanganan limbah kimia yang mungkin digunakan untuk pemurnian air.


Leave a comment

Filed under Peralatan