>Gunung Pawon, Masigit, dan Gunung Tanjung

>

Harian Pikiran Rakyat Senin 31 agustus 2009
Menguak Sisa-sisa Kehidupan Prasejarah
Setelah melalui jalan berliku selepas Situ Ciburuy, mata kita langsung disuguhi pemandangan perbukitan karst yang memiliki makna tersendiri di tengah masyarakat Desa Gunung Masigit. Di antaranya ada yang disebut dengan Gunung Karangpanganten, Gunung Pawon, Gunung Masigit, Gunung Tanjung, Gunung Bancana. Semua nama itu dikatakan sangat erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang pada masa lalu.
Menjelajahi kawasan perbukitan kars Desa Gunung Masigit, dari sisi arkeologi terasa seperti mencoba menjawab teka-teki berantai. Di balik jawaban pertanyaan pertama, muncul pertanyaan baru yang juga harus dicarikan jawabannya. Begitulah seterusnya, seolah sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab melalui penelitian yang mendalam di kawasan ini. Tantangan inilah yang dihadapi peneliti (arkeolog) bila datang dan menelesuri sisa-sisa kehidupan prasejarah yang pernah berlangsung di kawasan kars yang memiliki bentang yang cukup luas di Desa Gunung Masigit itu pada masa lalu.
Melalui penelitian arkeologi yang sistematis yang dilakukan sejak tahun 2003, pertanyaan tentang apakah kehidupan prasejarah yang menempati gua-gua yang terdapat di Gunung Pawon, mulai terungkap. Sampai April 2009 yang lalu, di Gua Pawon yang terletak di tebing sebelah utara Gunung Pawon telah ditemukan paling tidak lima rangka manusia. Rangka ini di antaranya ada yang ditemukan sebagian saja dan dalam keadaan utuh susunan anatomisnya.
Dari hasil pertanggalan C-14, dapat diketahui bahwa manusia Pawon ini hidup pada rentang waktu antara 5.600 sampai 9.500 tahun yang lalu. Dari pertanggalan C-14 ini pertanyaan Jean Cristope (Agustus, 2009) arkeolog Prancis, yang memperkirakan bahwa kerangka manusia Pawon sebagai kerangka tertua yang pernah ditemukan di Indonesia bagian barat, dapat terjawab.
Dari hasil ekskavasi yang dilakukan di Gua Pawon, sebenarnya tidak hanya kerangka manusia yang ditemukan. Akan tetapi, berbagai sisa makanan berupa fragmen-fragmen tulang binatang buruan, moluska, sisa peralatan hidup baik yang terbuat dari batu maupun tulang, serta berbagai bentuk perhiasan masa prasejarah juga ditemukan. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian arkeologi yang dilakukan di Gua Pawon ini dapat menyuguhkan satu set kehidupan prasejarah di dalam gua yang cukup lengkap.
Di balik penemuan kehidupan prasejarah di Gua Pawon, pertanyaan berikut yang muncul adalah apakah kehidupan prasejarah di dalam gua hanya berlangsung di Gua Pawon, apakah tidak ada sisa-sisa kehidupan prasejarah di gua-gua lain yang terdapat di sekitar Pawon.
**
Dengan dasar asumsi bahwa pada masa lalu satu kehidupan yang dilakukan manusia yang memanfaatkan gua sebagai tempat beraktivitas tidak hanya dilakukan di satu tempat, tetapi juga didukung oleh lokasi-lokasi yang lain karena manusia pada saat itu juga melakukan okupasi. Maka, dilakukan survei lingkungan di sekitar Pasir Pawon. Cukup menarik hasil survei yang diperoleh, ternyata selain Gua Pawon, di kawasan Gunung Pawon ini juga terdapat beberapa gua yang lain.
Di bagian bawah ruang Gua Pawon, terdapat satu ruang gua lagi yang terletak memanjang dengan orientasi utara selatan, dengan bagian mulut berada di sisi sebelah utara. Di bagian depan gua tumbuh rumpun bambu yang cukup lebat dan pohon yang cukup besar sehingga mengakibatkan pencahayaan ke bagian dalam gua berkurang.
Mungkin karena kurangnya pencahayaan itulah masyarakat setempat menamainya Gua Peteng (bahasa Sunda peteng berarti remang-remang). Agak ke timur dari Gua Pawon, pada jarak lebih kurang seratus meter, terdapat satu gua lagi yang disebut Gua Ketuk. Gua tersebut sampai sekarang jarang dikunjungi dan sebagian besar bagian mulut gua ditutupi oleh kerapatan semak. Di kedua gua tersebut selain memiliki karakteristik yang ideal untuk dimanfaatkan sebagai tempat hunian. Pada saat peninjauan dilakukan ditemukan indikasi fungsi sebagai tempat hunian berupa fragmen gerabah tua di permukaan lantai gua.
Beranjak ke gunung sebelah barat dari Gunung Pawon, yaitu ke Gunung Masigit. Bila tidak terjadi pendinamitan dan penambangan gamping secara besar-besaran di Gunung Masigit, mungkin saat ini kita masih dapat menemukan gua dengan berbagai bentuk peninggalan masa lalunya di sana. Kini, di bagian puncak gunung hanya tersisa bongkahan besar gamping dengan dinding yang sangat terjal dan terus digaruk penambang batu gamping.
Tepat di sisi sebelah barat dari Gunung Masigit inilah terletak Gunung Tanjung. Tidak jauh berbeda kondisinya dengan Gunung Masigit, sebagian besar dinding-dinding gamping yang berada di bagian puncak, sisi selatan, barat dan utara Gunung Tanjung rusak oleh kegiatan penambangan batu gamping. Walaupun sebagian besar kawasan gunung ini telah rusak, dari hasil penelitian yang penulis lakukan pada April 2009 yang lalu, ternyata gunung ini pada masa lalu juga banyak memiliki tinggalan gua. Gua yang paling besar berada di bagian puncak gunung, sedangkan gua-gua lainnya yang berukuran lebih kecil terletak di sisi sebelah selatan dan sisi barat.
**
Cukup menarik cerita yang disampaikan oleh Pak Oo (52), salah seorang saksi sejarah penghancuran gua yang turut bekerja sebagai pekerja tambang di Gunung Tanjung. Gua yang berada di puncak Gunung Tanjung ini disebutkan memiliki ruang yang cukup besar. Di dalam gua itu terdapat stalagtit dan stalagmit berbagai bentuk dan ukuran. Salah satu di antaranya memiliki bentuk yang sangat indah seperti bunga tanjung. Masyarakat setempat menyebut gunung itu dengan sebutan Gunung Tanjung.
Amat disayangkan, gua ini kemudian diledakkan untuk diambil bongkahan-bongkahan gampingnya. Selain diledakkan, lapisan tanah gua yang disebutkan Pak Oo sama dengan lapisan tanah yang ada di Gua Pawon ikut dihancurkan. Dari lapisan tanah itu dahulu ikut terbongkar berbagai tulang belulang dan berbagai benda tinggalan lainnya. Seolah tanpa dosa terhadap sejarah dan budaya masa lalu, dikatakan tulang belung itu jadi mainan saling lempar para pekerja tambang dan kemudian mereka buang begitu saja. Mungkin saat itu hanya Bapak Oo sajalah yang punya rasa sieun ka karuhun sehingga pada saat diminta untuk menunjukkan lokasi gua dan untuk mencari sisa-sisa tulang dari gua yang sudah dihancurkan tersebut beliau masih bisa menemukannya.
Dari hasil penelitian, di lokasi bekas gua tersebut masih ditemukan beberapa potongan tulang bagian tungkai (tibia) dan bagian tulang paha (femur) manusia, serta beberapa potongan tulang binatang besar (macro fauna). Melihat dari ukuran dan pelapukan yang telah terjadi pada potongan tulang-tulang manusia yang ditemukan di bekas gua Gunung Tanjung tersebut, dapat dilihat kemiripannya dengan temuan tulang manusia di Gua Pawon, terutama rangka III (R.III) yang memiliki pertanggalan sekitar 7.300 tahun silam.
Atas dasar ini, kuat dugaan bahwa gua-gua yang ada di Gunung Tanjung ini merupakan bagian dari kompleksitas kehidupan prasejarah yang pernah berlangsung di kawasan tersebut selain Gua Pawon.
Masih banyak pertanyaan tentang kompleksitas sejarah kehidupan masa lalu yang harus dijawab di kawasan Desa Gunung Masigit khususnya dan umumnya kawasan Kecamatan Cipatat yang kaya akan tinggalan gua-gua karst ini. Hal ini seiring dengan munculnya laporan warga tentang adanya beberapa gua lagi yang ditemukan di daerah itu.
Menarik, hasil penjelajahan gua yang baru-baru ini dilakukan oleh T. Bachtiar dkk. di Gunung Bancana, mungkin selain gua itu, dahulunya di Gunung Bancana juga terdapat gua-gua lain yang juga memiliki tinggalan kehidupan prasejarah. Akan tetapi, karena kegiatan tambang hal itu sangat sulit untuk ditemukan kembali. Saat ini sangat diharapkan perhatian lebih dari semua pihak, tinggalan perbukitan kars di kawasan Cipatat yang sebagian besar telah menjadi kawasan penambangan batu gamping selama ini ternyata memiliki nilai budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang amat penting untuk dijaga kelestariannya. Memang, selama ini seolah perhatian di kawasan ini hanya terfokus pada Gua Pawon (Gunung Pawon). (Drs. Lutfi Yondri, M.Hum., Peneliti Utama Bidang Prasejarah Balai Arkeologi Bandung, Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten)***
Advertisements

Leave a comment

Filed under Tempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s