>TUNGKU PEMBUATAN GULA MERAH DENGAN BAHAN BAKAR BATU BARA

>

Untuk menghasilkan gula yang baik diperlukan kayu bakar yang tua dan kering, sehingga air nira dari pohon dapat dididihkan dengan cepat. Jika pendidihan lambat, maka fermentasi dapat terjadi sehingga terbentuk asam cuka yang mengakibatkan gula terasa asam dan lunak karena bersifat higroskopis (menyerap lembab).
Di banyak daerah, kayu kering dan tua semakin sulit didapat terlebih lagi pada musim hujan. Hal ini membuka peluang bagi batu bara sebagai bahan bakar pengganti untuk industri gula merah karena batu bara selalu tersedia baik di musim hujan atau kemarau dengan mutu yang tetap.

Pemasakan dengan batu bara lebih cepat dibanding penggunaan kayu bakar, sehingga gula yang dihasilkan lebih manis dan kering. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 250 kg gula merah bahan baku dan waktu pemasakan yang diperlukan :

  • Dengan batu bara, sebanyak 280kg selama 6 jam
  • Dengan kayu, sebanyak 720 kg selama 8 jam
    Harga 720 kg kayu belah = Rp 86.500,-
    280 kg batu bara = Rp 42.000,-
    (harga di Bengkulu).

Tungku kedua untuk memanaskan air nira di wajan kedua dengan memanfaatkan panas dari gas buang dari tungku pertama. Penambahan air nira di wajan utama selalu diambil dari wajan kedua yang sudah panas.
Tungku dibuat dari bata merah dengan campuran pasir dan lempung sebagai plester (perbandingan 4 : 1). Dinding luar tungku dapat diplester dengan semen biasa
Biaya pembuatan tungku untuk wajan berdiameter 90 cm kurang lebih Rp 60.000,- ditambah sebuah kipas angin kecil seharga Rp 50.000,-

Penggunaan Batu Bara
Batu bara yang digunakan adalah batu bara bongkahan berukuran 2 – 6 cm, atau dapat juga digunakan briket batu bara tipe telur Penyalaan awal batu bara dilakukan dengan potongan-potongan kayu yang diletakkan di atas kisi (5).
Potongan-potongan kayu dibakar, kemudian butir-butir batu bara diletakkan di atasnya. Setelah api agak besar kipas (9) dihidupkan sehingga api semakin membesar. Wajan diletakkan di kedua pemanas dan air nira dimasukkan.
Selanjutnya batu bara yang akan ditambahkan disimpan di ruang bahan bakar (1). Disini batu bara mengalami pirolisis sehingga pada saat didorong ke ruang bakar (5) zat terbangnya sudah berkurang dan terbakar secara tak berasap. Batu bara segar yang baru disimpan lagi di ruang bahan bakar (1) agar mengalami proses pirolisis. Demikian seterusnya proses pembakaran dalam tungku ini yang disebut tungku pirolisis pemanas ganda.
Setelah penguapan nira berlangsung, nira di wajan tungku I (2) semakin berkurang karena menguap, tambahkan nira yang diambil dari wajan tungku II (3) yang sudah dipanaskan dengan memanfaatkan panas dari gas buang yang keluar dari saluran gas buang panas (7). Wajan di tungku II (3) diisi kembali dengan nira segar. Setelah penguapan terus berlangsung, nira di wajan tungku I (2) menjadi kental siap untuk dicetak.
Supaya wajan yang digunakan tahan lama, maka sebelum dipanaskan bagian bawah wajan dicat dengan kapur, sehingga gas-gas yang dapat merusak wajan dapat dinetralkan. Selain bahan bakar batu bara dapat juga digunakan briket batu bara non karbonisasi atau briket bio batu bara.

Banyak hasil yang telah dimasyarakatkan oleh tekMIRA berkaitan dengan penggunaan batu bara ini, antara lain :

– Berbagai tungku rumah tangga dengan menggunakan briket.
– Berbagai tungku untuk industri rumah tangga seperti untuk dodol, tahu, tempe, jasa boga dan sebagainya.
– Berbagai tungku pembakaran bata/ genteng, kapur dengan batu bara.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Tungku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s