>BRR, Tungku Panas dan Gadis Cantik Einstein

>

Mathias J. Daeli
Pengantar Redaksi: Tidak terasa, Situs Yaahowu, yang bercikal-bakal sebuah blog (http://yaahowu.blogspot.com) telah menginjak usia satu tahun, tepat pada hari Jumat 1 Desember 2006. Transfer ke alamat baru di http://www.niasonline.net dimulai tgl 7 Oktober 2006. Tim Redaksi tidak mengadakan acara khusus untuk merayakan usia pertama ini.
Namun, salah seorang tokoh masyarakat Nias, orang tua kita, Bapak M. J. Daeli, yang sering mengirim tulisan-tulisan yang mencerahkan dalam Situs Yaahowu, mengirim sebuah artikel berkenaan dengan Diskusi Online yang sedang berlangsung, dan sekali gus merupakan kado ulang tahun buat Situs Yaahowu. Kepada Bapak Mathias Tim Redaksi mengucapkan Saohagölö (terima kasih) dan juga mendoakan semoga Bapak Mathias dikarunia Tuhan kesehatan yang baik. (Redaksi).
***
Artikel pendek ini menyambut Ulang Tahun ke-1 Situs Yaahowu tanggal 1 December 2006 yang sedang menyelenggarakan Diskusi II tentang “Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias – Membayangkan Wajah Nias Pasca Program BRR”. Diskusi I yang bertopik “Menyambut dan Menyikapi Kelahiran Propinsi Tapanuli” telah selesai dengan selamat. Uraian pendek dari topik seperti di atas mencoba melihat dari salah satu segi kegiatan yang telah dilakukan BRR di Tanõ Niha (Nias) selama ini.
BRR tidaklah asing bagi kita dan bagi dunia. BRR dibentuk berdasar PERPU No. 2 tahun 2005 yang kemudian dikuatkan dengan UU No. 10 tahun 2005 . Sengaja dibentuk untuk bertanggung jawab mengelola kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah NAD dan Nias pasca-bencana gempa dan tsunami. Dalam visi BRR ditegaskan untuk “Mewujudkan masyarakat NAD dan Nias yang Amanah, Bermartabat, Sejahtera, dan Demokratis” yang harus selaras dan mendukung terwujudnya visi dan misi dari setiap daerah yang terkena bencana.
Untuk mewujudkan visi, dirunuskanlah misi BRR yang mencakup empat aspek utama sebagai berikut:
  • Membangun kembali masyarakat Aceh dan Nias, baik
    kehidupan individu maupun sosialnya.
  • Membangun kembali infrastruktur fisik dan infrastruktur kelembagaan.
  • Membangun kembali perekonomiannya sehingga dapat berusaha sebagaimana sebelumnya.
  • Membangun kembali pemerintahan sebagai sarana pelayanan masyarakat.
Dari visi dan misi tersebut diatas, BRR memiliki pokok-pokok mandat:
  1. Melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran;
  2. Mengorganisasikan dan mengkoordinasi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak lain yg terkait.
Dengan tidak melihat dari segi luasnya, diakui bahwa rumusan tugas dan tanggungjawab itu, sungguh luhur dan mulia. Rumusan yang terpancar dari dasar negara Pancasila. Tidak mengherankan kalau hampir seluruh dunia para donatur tidak ragu-ragu memberi sumbangan bantuan dalam berbagai bentuk. Baik dari PBB, negara, lembaga-lembaga sosial, dan peribadi-peribadi dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka menunjukkan rasa “penderitaan kolektif”, rasa empati, dan simpatik
terhadap derita korban yang masih hidup. Tercatat 44 negara sahabat turut membantu secara langsung dalam misi kemanusiaan. Tercatat pula 16 ribu anggota pasukan negara-negara sahabat diterjunkan dalam apa yang oleh para pengamat disebut sebagai misi nonperang terbesar setelah Perang Dunia Kedua.
Tidak hanya masyarakat NAD dan Nias yang bersyukur dan berterima kasih melainkan umat manusia yang berhati nurani baik. Inilah salah satu wujud kebenaran bahwa umat manusia bersaudara. Wujud dari sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Akan tetapi kenyataan pelaksanaan di lapangan seakan-akan jauh dari harapan. Mengapa saya katakan seakan-akan, karena BRR masih kerja di Nias. Masih ada
waktu citra BRR yang jelek di Nias diperbaiki. Semoga.
Sebatas data yang saya miliki hal ini pernah saya tulis dalam sebuah artikel Situs Yaahowu ini (Membayangkan Kecemasan, 13 Nopember 2006).
Jadi, apa hubungan TUNGKU PANAS DAN GADIS CANTIK EINSTEIN dengan BRR seperti tema di atas. Secara jujur saya akui bahwa tidak memiliki kemampuan cukup membahas karya monumental Albert Einstein: Relativitas. Benar diakui oleh Einsten dalam prakatanya bahwa, ia berusaha untuk menyajikan teori relativitas dalam bentuk yang paling sederhana dan paling mudah dipahami serta, secara keseluruhan, dalam urutan dan hubungan sebagaimana gagasan-gagasan itu sebenarnya muncul.
Artikel ini tidak bermaksud untuk membahas itu. Namun yang menggugah saya menulis mengenai ini adalah kecerdasan Einstein membuat metafora untuk menjelaskan kerumitan teori relativitasnya mengenai waktu. Dikatakan bahwa “When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.” Terjemahan: Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas tungku panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas. Disini terlihat kejeniusan Einstein dengan melihat perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis.
Waktu membaca kalimat ini, teringat saya pada korban bencana alam di Nias dan di mana pun. Seandainya (khusus di Tanõ Niha ), oknum-oknum petugas BRR yang telah memiliki rumah dan mobil mewah, hidup telah mantap – senang, berada di posisi para korban gempa, apa yang akan terjadi dan apa yang akan mereka rasakan ?
Bukan lagi berandai-andai. Penderitaan para korban bencana tsunami dan gempa di Tanõ Niha (Nias) sungguh membuat orang yang perasa histeris. Kehilangan anggota keluarga, rumah hancur, sarana umum hancur, penyakit di sana-sini, dan lain sebagainya jenis penderitaan itulah yang dialami para korban. Dan pasti korban “merasakan” lama sekali. Dan penderitaan itu dirasakan bertambah lama lagi karena sumbangan (kasih) para donatur yang seharusnya untuk memperbaiki nasib mereka, dikorup oleh oknum-oknum petugas BRR yang rakus dan serakah.
Sebaliknya oknum petugas BRR (bisa hanya dari belakang meja dan mungkin belum pernah menyentuh lapangan) tidak memiliki rasa penderitaan kolektif. Mereka bersenang-senang menikmati honor tiap bulan dan (mungkin) uang hasil “menaikkan harga” dan “mengurangi mutu” kerja (contoh rumah). Waktu psikologis korban yang menderita tidak menjadi masalah. Bagi mereka ini, waktu yang lama pun tidak masalah dan tetap senang karena honor terus dibayar.
Keaadan yang timpang di atas inilah yang hendak disapa melalui artikel ini. Melalui Situs Ya’ahowu artikel ini hanya berusaha menyapa dan menyentuh nurani pengunjung mengenai pelaksanaan tugas dan tanggungjawab BRR di Tanõ Niha (Nias).
Waktu bagi BRR masih ada untuk memperbaiki citra. Janji-janji yang telah disamapaikan kepada masyrakat untuk melakukan perbaikan kinerja supaya ditepati. BRR akan dikenang dalam sejarah rehabilitasi dan rekonstruksi Tanõ Niha (Nias) dan dalam sejarah kemanusian. Semoga yang baik.
Advertisements

Leave a comment

Filed under Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s