>Dakwah dari Tungku ke Tungku

>

FOTO: Dakwah dari Tungku ke Tungku
Di lereng gunung ia menyebarkan salam dan berbincang-bincang. Dengan cara yang sederhana itu, Islam justru berkembang pesat.
Empat orang lelaki itu duduk di atas bangku kecil mengelilingi tumang (tungku) yang terletak di dapur rumah Sunarsan, warga Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Mereka adalah para muallaf yang baru saja masuk Islam setelah Idul Fitri 1428 H, beberapa bulan lalu.
Di ujung bangku kecil, sebelah kiri tumang sepanjang satu setengah meter, ustadz Edy Purwanto tengah berbicara tentang tauhid dan shalat. Edy salah seorang dai yang membina para muallaf ini.
Walau udara di luar terasa dingin dan menusuk tulang, mereka tetap khusyuk menyimak kata-kata yang keluar dari mulut sang ustadz. Malam itu, mereka berkumpul karena baru saja menunaikan shalat Isya secara berjamaah di mushalla An-Nur yang terletak di sebelah kanan rumah Sunarsan. Edy menyempatkan diri mampir untuk bersilaturrahim.
“Shalat itu memang berat, tapi kalau kita membiasakan diri, akan jadi mudah,” ujar Edy disambut anggukan pendengarnya.
Dai Pesantren Hidayatullah Lumajang itu memberikan tamsil tentang pentingnya shalat, ibarat orang yang mandi lima kali sehari. “Kalau panjenengan (anda) semua ini mandi lima kali sehari, apakah masih kotor atau bersih?” tanyanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu bertanya pada para sahabat. “Tentu saja bersih,” jawab mereka berbarengan.
Mengetahui obrolan makin asyik, istri Sunarsan segera mengambil beberapa gelas dan menuang kopi panas ke dalamnya. Tiap orang mengambil gelas tanpa dipersilakan, seolah tahu bagian masing-masing.
Selain tamu biasa, yang hadir di tumang Sunarsan malam itu adalah Karyo Slamet, salah seorang tokoh Dusun Puncak. Sebelum memeluk Islam, Yok, panggilan Karyo, termasuk salah seorang penentang Islam yang paling keras. Namun, setelah mendapatkan hidayah dan bersyahadat, dia pun berbalik menjadi orang yang peduli dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mendengar ceramah Edy itu, Yok nyeletuk, “Kadang saya agak malas untuk shalat, karena tidak sempat.”
“Memang harus dibiasakan Pak Yok. Kalau tidak, ya nggak bisa,” celetuk Bakri, warga sedusunnya, yang malam itu turut nimbrung.
Edy pun menimpali, “Yang namanya pekerjaan berat, pasti hasilnya akan berlipat ganda. Demikian pula dengan shalat. Sampeyan-sampeyan harus bersyukur kepada Allah karena diberi hidayah untuk masuk Islam. Alangkah indahnya agama ini, dan alangkah mahalnya hidayah Allah. Oleh karena itu, marilah kita pertahankan hingga akhir hayat.”
Ketika bersilaturrahim seperti inilah biasanya Edy memberikan tausiyah kepada mereka tentang pentingnya shalat wajib, shalat Tahajjud, shalat Dhuha, maupun ibadah lainnya. Tausiyah tidak melulu ia berikan di mushalla. Malah yang di depan tumang itulah yang paling sering. Dan, biasanya, kata Edy, dakwah di tumang lebih mendalam dan mengena ke hati mereka ketimbang ceramah di mushalla.
Dakwah di depan tumang warga dusun adalah salah satu cara Edy membina para muallaf yang haus akan siraman rohani. Tumang adalah tempat khas di Sundoro. Ia bisa jadi tempat makan, menerima tamu, tempat rehat, ruang berkumpul, maupun tempat menghangatkan tubuh. Maklumlah, Sundoro adalah kawasan dingin.
Dusun Puncak adalah kawasan tertinggi di Desa Argosari. Sekitar dua kilometer ke arah barat dusun, Gunung Bromo tampak indah menjulang. Puncak Gunung Semeru tampak gagah menantang langit di sebelah utara. Pemandangan sekitar dusun dihiasi oleh lereng-lereng curam yang ditanami bawang daun dan kubis yang berderet-deret simetris membentuk pemandangan indah dan mempesona.
Islam, Hindu, Lalu Islam Lagi
Dahulu, sebagian warga Puncak memeluk agama Islam sebelum beralih ke Hindu. Ini terbukti dengan adanya ‘bekas’ mushalla yang terdapat di sana. Kondisi mushalla itu sangat memprihatinkan karena tak terpakai dalam waktu lama. Atapnya banyak yang bocor, dinding-dindingnya terkelupas dan bolong di sana-sini. Lantainya tak kalah menyedihkan, terbuat dari tanah dan penuh kotoran hewan. Wajar saja, sebab kambing dan ayam menjadikannya tempat favorit untuk bermain.
Begitu mereka telah kembali berikrar ke pangkuan Islam, muhalla tersebut direnovasi kembali dengan cara bergotong-royong.
Warga Dusun Puncak termasuk dalam gelombang terakhir yang masuk Islam dibandingkan dengan warga dusun lainnya seperti Dusun Pusung Duwur dan Bakalan. Jumlah muallaf di kedua dusun itu pun lebih banyak dibandingkan dengan yang di Puncak.
Untuk membina para muallaf di seluruh Argosari, Edy tidak bergerak sendirian. Ia ditemani oleh dai-dai lainnya dari beberapa ormas Islam.
Jalan ke arah Puncak lebih berat daripada ke Pusung Duwur atau Bakalan. Hanya sebagian jalan yang diaspal. Sisanya alami; tanah pegunungan dengan tanjakan dan turunan tajam.
Ketika musim kemarau akan berdebu, ketika musim hujan akan licin dan berlumpur, berbahaya untuk dilewati. Jangankan naik motor, dengan berjalan kaki saja bisa terpeleset.
Penduduk Desa Argosari berjumlah 6.000 jiwa. Dari jumlah itu, baru 1.000 orang yang masuk Islam. Sedangkah jumlah tenaga dai tak sampai 20 orang.
Edy dan kawan-kawan berharap akan banyak pengiriman tenaga-tenaga dakwah lainnya ke sini. Peluang untuk mengembangkan komunitas Islam di kawasan ini masih terbentang sangat luas.
“Kalau ini tidak diimbangi dengan pengiriman tenaga dai, maka akan mudah terjadi resistensi dengan missionaris Kristen yang juga giat ‘berdakwah’ di sana, ” kata bapak tiga anak ini.
Metode dakwah yang diterapkan Edy sebenarnya sederhana, silaturrahim. Setiap bertemu orang di Argosari, dia selalu menyebarkan salam. Kalau yang ditemui kebetulan orang Hindu, ia cukup tersenyum dan menyapa. Ia tahu kalau ia masih non-Muslim karena ketika di sapa dengan salam tidak menjawab.
Hal yang jadi masalah para dai adalah rendahnya tingkat pendidikan warga dusun. Mereka tidak bisa baca tulis, walau telah berusia uzur sekalipun karena tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Oleh karena itu, Edy dan kawan-kawan kerap menganjurkan para muallaf agar menyekolahkan anak-anak mereka, entah di pesanten atau sekolah umum.
Di Puncak sendiri, tidak terdapat Sekolah Dasar (SD). Sekolah itu hanya ada di Dusun Legok, jauh di bawah pedusunan, sekitar 3 kilometer, dengan kemiringan 50 derajat. Itulah yang membuat mereka malas menyekolahkan anak-anaknya. Kini, sebagian anak-anak para muallaf ini telah dikirim ke beberapa pesantren di sekitar Lumajang.
Kambing Pengganti Babi
Namanya muallaf, masih ada di antara mereka yang berat meninggalan kebisaan lamanya, yakni memelihara babi. Para dai membuat strategi tidak melakukan pelarangan secara langsung. Edy khawatir larangan itu akan menimbulkan keguncangan, sementara untuk beternak hewan lainnya masih belum bisa dilakukan.
“Kita tidak bisa hanya sekadar melarang tanpa memberikan solusi. Kita harus bisa mencari alternatif ternak lain yang dapat dipelihara oleh para muallaf,” katanya.
Kini Edy tengah sibuk mencari sponsor atau donatur yang mau mempercayakan pada muallaf untuk beternak kambing atau sapi. Dan, warga pun siap mengganti ternaknya kalau memang ada alternatif. Sebenarnya warga tahu bahwa babi diharamkan dalam Islam, namun karena desakan ekonomi, mereka tidak mampu berpaling.
Sebelum bertugas di pegunungan Argosari, Edy Purwanto adalah dai Pesantren Hidayatullah yang bertugas di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Dia ikut bergabung dengan Pesantren Hidayatullah cabang Jember pada tahun 1991. Kala masuk pesantren saat itu, Edy baru menginjak semester tiga di Politeknik Fakultas Pertanian Universitas Jember.
Setahun setelah bergabung di cabang Jember, Edy pun melangsungkan pernikahan. Bulan madunya adalah penugasan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pada tahun 1994, ia memboyong keluarganya untuk menjalani tugas baru di Timor Timur. Di negara baru dan termiskin di dunia itu, Edy bertugas selama dua tahun.
Kini, di puncak gunung, di tumang-tumang rumah warga, Edy dan kawan-kawan terus bergiat menebarkan rahmatan lil alamin-nya Islam. Dia hanya ingin keberadaan para dai di komunitas Suku Tengger itu membawa manfaat dan maslahat bagi umat. Chairul Akhmad/Suara Hidayatullah JANUARI 2008
Advertisements

Leave a comment

Filed under Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s