>Tungku Sekam Mengatasi Energi

>

Krisis energi telah menjadi masalah utama yang kini dirasakan masyarakat di semua lapisan. Tingginya harga jual dan langkanya ketersediaan bahan bakar minyak memaksa berbagai pihak memikirkan cara terbaik untuk mengatasi krisis energi ini. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh para peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Untuk menghemat energi dan mengantisipasi mahalnya biaya minyak tanah dan gas, masyarakat dikenalkan dengan tungku berbahan bakar sekam padi. Untuk mewujudkan hal tersebut, IPB melakukan sosialisasi tungku tersebut di Desa Petir, Kecamatan Dramaga Bogor, Kabupaten Bogor, pekan lalu.
Tungku ini berbentuk kerucut dari bahan seng dengan 15 lubang di sekelilingnya. Kerucut ini dipasang terbalik, yang lebar diatas sedangkan ujungnya di bawah dan ditopang dengan tanah liat yang berbentuk tabung atau bisa juga dengan kaleng bekas cat. Di dalamnya terdapat selongsong kecil yang juga terbuat dari seng yang fungsinya untuk meletakkan bara hasil pembakaran sekam.
Sebanyak 21 warga desa yang termasuk peserta padat karya nasional melakukan demo masak dengan tungku yang menggunakan bahan bakar sekam ini. Masyarakat terlihat antusias mengikuti demo memasak dengan bahan bakar sekam tersebut. ”Kita harus setiap saat memasukkan sekam ke dalam tungku agar apinya tidak mati. Walaupun agak <I>ribet<I>, tapi rasa masakannya agak beda, ada aromanya,” kata Budi Burhanudin (44 tahun), seorang warga.
Namun, menurut warga sekitar yang menyaksikan demo penggunaan tungku tersebut, mereka tak tahan terhadap asap yang ditimbulkan dari sekam yang terbakar. Hal ini diakui oleh peneliti tungku sekam yang juga merupakan Ketua Departemen Fisika FMIPA IPB, Irzaman. ”Memang asapnya banyak, hal itu disebabkan karena sekamnya mengandung air. Jadi harus sering dijemur. Tapi, kami berusaha menciptakan cerobongnya, agar asap tidak melebar,” jelasnya.
Selain itu, hasil pembakaran sekam akan mengotori bawah tungku. Untuk itu, kata Irzaman, tungku sekam ini tidak cocok untuk rumah yang memiliki dapur tertutup atau di dalam rumah seperti masyarakat perkotaan di Jakarta. ”Target kami adalah masyarakat pedesaan. Yang mayoritas dapurnya berada di luar rumah dan di ruang terbuka,” kata Irzaman.
Namun, tungku berbahan bakar sekam ini punya beberapa keunggulan. Pertama, ungkap Irzaman, biaya yang dikeluarkan untuk memasak dengan tungku sekam ini jauh lebih murah. Tungku yang mempunyai tiga ukuran ini bahan bakarnya dari sekam yang harganya hanya Rp 3.000 per karung dan bisa digunakan untuk memasak sehari selama tiga jam.
”Sedangkan untuk industri seperti tahu sumedang, bisa menghemat jauh lebih besar. Mereka bisa memasak dengan tungku ini selama sembilan sampai 12 jam nonstop hanya dengan tiga karung sekam seharga Rp 9.000,” kata Irzaman.
Selain itu, menurut Irzaman, sekam lebih mudah didapat di pedesaan, tidak seperti minyak tanah yang langka dan mahal. ”Yah itulah mengapa target market kami masyarakat pedesaan yang masih banyak lumbung padinya,” ungkap Irzaman.
Irzaman mengaku saat ini sudah banyak industri seperti tahu sumedang memesan tungku kepada pihaknya. Mereka menjual tungku ini untuk ukuran kecil skala rumah tangga seharga Rp 80 ribu, ukuran sedang Rp 150 ribu, dan ukuran besar skala industri seharga Rp 900 ribu.Saat ini, IPB dan 21 warga telah membuat sebanyak 1.100 tungku yang dilakukan dalam waktu lima minggu. Sebanyak 200 tungku dibagikan secara gratis kepada 16 desa yang masuk wilayah desa binaan IPB. Pemberian tersebut merupakan bentuk bakti sosial dalam rangka Dies Natalis IPB ke-45.

Kepala Desa Petir Kecamatan Dramaga Kosasih mengaku sangat senang atas bantuan yang diberikan IPB ini. ”Syukur alhamdulillah, kami mendapat bantuan ini. Antusias warga sangat tinggi. Hal ini merupakan salah satu usaha untuk mengembangkan desa yang mayoritas penduduknya petani,” katanya.Hal itu pun diakui Izaman, pihaknya sebagai peneliti mengajarkan kepada warga dari berbagai desa di Bogor dan Tasikmalaya. Selanjutnya pihaknya memperbolehkan warga mengembangkan penemuan mereka untuk mengembangkan diri. ”Kami tidak akan meminta royalti atas hak paten kami, jika warga gunakan untuk mengembangkan diri,” papar Irzaman. (fkr/rol)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Peralatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s