>Kisah Korban Tsunami: Gelombang Pertama Setinggi 8 Meter

>

TEMPO InteraktifPadang – Tsunami menerjang Muntei Barubaru, daerah pesisir barat Pulau Pagai Utara hingga setinggi pohon kelapa. Rida, 16 tahun, warga yang selamat mengatakan tsunami terjadi 10 menit setelah gempa.
Ia mengatakan awalnya gempa yang datang hanya dianggap remeh, karena itu warga kembali ke rumah.
“Awalnya gempa tidak begitu keras, hanya bergoyang tetapi lama. Saya sekeluarga keluar rumah, lalu 10 menit kemudian tiba-tiba terdengar letusan yang sangat kuat dari arah laut, dan datang gelombang pertama dari arah kanan kampung dengan ketinggian 8 meter dan masuk ke kampung.”
“Kami melarikan diri ke arah bukit yang berjarak 1 kilometer, anak saya dibawa suami. Gelombang kedua datang sesaat kemudian dari arah kanan kampung, airnya seperti bertepuk di tengah dan menyapu kampung dan menghancurkan seluruh bangunan,” kata Rida.

Warga Muntei yang selamat adalah yang berhasil melarikan diri sekencangnya menghindari air yang membawa pohon-pohon bakau yang tercabut, pohon kelapa, terumbu karang dan batu karang di pantai.

“Malam itu kami tinggal di bukit di dalam pondok yang pernah didirikan untuk mengungsi saat gempa 2007. Tsunami hanya berlangsung tidak lama, hanya dua gelombang itu yang tinggi. Malamnya para lelaki mencari warga yang selamat. Kalau terdengar rintihan baru bisa tahu karena malam gelap gulita,” kata Rida.

Keesokan harinya baru terlihat kampungnya hancur rata dengan tanah, rumah, gereja, masjid, sekolah hilang tersapu tsunami. Tidak ada bangunan yang tersisa. Korban tewas ditemukan di bawah puing rumah, terhimpit pohon dan tersangkut di batang kayu yang masih berdiri.

“Pada Selasa ditemukan 40 warga yang tewas. Keluarga saya selamat semua, yang tewas dijajarkan di jalan. Lalu dua warga yang kuat tenaganya berjalan kaki ke Sikakap meminta bantuan untuk kami,” kata Rida.

Ia mengatakan untuk makanan mereka mencari keladi dan pisang dan memakannya. Bantuan ke Muntei datang Rabu pagi.

Rabu ini baru 80 korban tewas ditemukan dan 102 masih hilang. Hanya 40 orang yang selamat, 20 orang di antaranya luka dan dibawa ke Sikakap.

Menurut Supri Lindra, jurnalis lokal yang ke lokasi, saat ini telah didirikan dapur umum dan para pengungsi telah diberikan tenda terpal dan makanan siap saji serta makanan instan dan air minum.

“Yang terlihat di kampung ini pucuk kelapa mati tanda bekas kena air laut dan pondisi rumah ikut tercongkel,” katanya. Jenazah sore ini dikuburkan masal di Muntei.

FEBRIANTI
Advertisements

Leave a comment

Filed under Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s